Ulama Akhir Zaman, Memencilkan Diri, Makan Akar Kayu, Berlakukan Dinar Dirham?

2405

Pada 7 Agustus 2016 saya bersama tim dari Wakala Induk Nusantara (WIN) pimpinan Amir Zaim Saidi bersilaturrahmi dengan Abuya Mufassir, seorang ulama sufi yang tinggal di kampung Barugbug, Ciomas Seorang Banten. Perjumpaan dengan beliau diantar oleh Ust Muhammad Khairul Ihsan, pimpinan Pesantren Ulul Albab.

Buya Mufassir adalah salah seorang teman akrab guru saya Kyai Ahmad Rifai Arief sejak sama-sama mondok di Gontor. Beliau yang pernah menjadi dosen IAIN Jogja ini selanjutnya ‘uzlah hingga menjalani kehidupan sufi. Beliau makan dari yang ditanamnya sendiri, salah satunya singkong.

Cara hidup beliau mengingatkan hadits shohih Bukhari no. 1873 saat umat Islam dalam perpecahan hingga tidak berada dalam satu jama’ah. Nabi Muhammad saw bersabda:
فاعتزل تلك الفرق كلها ولو أن تعض باصل شجرة حتى تدرك الموت وانت على ذلك

“Jauhilah semua kumpulan biar pun karena itu engkau sampai mengunyah akar-akar kayu sehingga engkau meninggal dunia dalam keadaan seperti itu”.

Amir Zaim Saidi pun menjelaskan kepada ulama sufi ini ttg gerakan pemberlakuan kembali dinar dan dirham yang dipelopori oleh Syekh Abdal Qadir as Sufi. Muallaf kelahiran Skotlandia yang menjadi mursyid tarekat Qadiriyah Syadziliyah Darqawiyah.

Atas pengajaran beliau kedua mata uang ini pada tahun 1992 dicetak kembali di era modern ini oleh salah seorang muridnya, muallaf kelahiran Spanyol hingga menjadi ulama, Syekh Umar Ibrahim Vadillo.

Mendengar penuturan Amir Zaim Saidi, ulama sufi yang juga pernah belajar kepada Almarhum Abuya Dimyati Pandeglang ini pun antara lain mengatakan: “saya merasa senang” dan “teruskan”.

Dua bulan kemudian pada 12 Oktober 2016, kami pun bertemu Syekh Abdal Qadir As Sufi dan Syekh Umar Vadillo serta ulama dan murid beliau di Cape Town Afrika Selatan.

Karena itu, selain ‘uzlah hingga memakan akar akar kayu yang terdapat dalam hadits Nabi, kembalinya dinar dan dirham.

Pada pertemuan pertama kali saya bersama kang Asep Saefullah dengan Abuya Mufassir pada tahun 2011, saya pun sempat memperlihatkan dan memberi beliau sekeping dirham (uang perak). Beliau pun bilang: “kalau dinar mah yang kuning ya….”. Uang terbuat dari emas ini saya simpan di dompet namun tidak saya perlihatkan kepada beliau.

Tidak lama setelah perjumpaan dengan beliau, saya baca dari internet. Ternyata terdapat hadits yang secara implisit menyebut warna kuning yang menunjukkan emas dan putih yang menunjukkan perak. Adapun haditsnya berikut ini:
يأتي على الناس زمان من لم يكن معه أصفر ولا أبيض، لم يتهن بالعيش (رواه الطبراني في الأوسط)
“Akan datang suatu masa pada umat manusia, dimana pada saat itu orang yang tidak memiliki kuning (emas) dan putih (perak), dia akan kesusahan dalam kehidupan” (H.R. Thabrani)

Selain itu juga terdapat dua hadits yang secara eksplisit menyebutkan Dinar dan dirham akan berlaku lagi pada suatu zaman. Kedua hadits ini yaitu:

يأتي على الناس زمان لا ينفع فيه الا الدرهم والدينار (رواه الإمام أحمد في المسند)
“Akan datang suatu masa pada umat manusia, dimana saat itu yang berguna hanya uang emas (Dinar) dan uang perak (Dirham) saja” (H.R. Imam Ahmad)

:” اذا كان في اخر الزمان لا بد للناس فيها من الدراهم والدنانير يقيم الرجل بها دينه ودنياه

“Ketika akhir zaman, manusia di masa itu tidak boleh tidak memerlukan dirham (uang perak) dan dinar (uang emas) untuk menegakkan agama dan dunianya. (Hadith riwayat Imam Al-Thabrani)

Pertemuan terkait dinar dan dirham ini, juga mengingatkan saya waktu awal duduk di kelas II Madrasah Tsanawiyah Pesantren Daar el Qolam (1989), saat tahun pertama diwajibkan disiplin berbahasa Arab. Saat itu saya bingung perbedaan “nuqud” dan “fulus” yang dua-duanya diartikan “uang”. Hal ini sebagaimana pada istilah “muflis”. Kata ini berasal dari akar kata yang sama dengan “fulus”. Namun diartikan bukan menjadi “orang yang punya uang”, tetapi “orang yang tidak punya uang” atau “bangkrut”.

Setelah belajar lagi seiring bertambahnya usia, saya pun mulai mengerti. “Nuqud” digunakan untuk menyebut alat tukar terbuat dari emas (dinar) dan perak (perak). Adapun “fulus” digunakan untuk menyebut alat tukar yang terbuat selain dari emas dan perak, seperti tembaga dan sebagainya.

Semoga penyebaran kembali dinar dan dirham dapat mewujudkan kembali keadilan dalam berjual beli. Hal ini seperti pertukaran sekian ha hutan dengan sekian jumlah dinar yang berarti sekian ton emas atau dengan barang lainnya yang sebanding. Sebab, pertukaran sekan ha hutan dengan hanya tumpukan kertas kertas kecil bernama dollar dsb, itu bukan jual beli melainkan riba.

Dinar dan dirham sebagai standar yang diberlakukan oleh Rasulullah saw dalam zakat uang, penentuan sanksi bagi pencuri, dsb semoga juga semakin kembali tersebar pemberlakuannya. Aamiin.

Wallahu a’lam bis showab.