Uang Kertas adalah Uang Setan: Pandangan dengan “Otak Jerman” (Goethe) dan “Hati Mekah” (Ghazali)

569

Awal hingga pertengahan 2001, perkuliahanku sudah selesai, tinggal menyusun skripsi di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad Bandung. Karena itu, aku sering pulang ke rumah orang tuaku di Sukabumi.

Aku teringat nasehat Kyai Rifa’i Arief, “Jika kalian merasa kecil, belajarlah jadi orang besar.” Akupun menulis jargon “THINK BIG IF YOU WANT TO BE BIG” pada sebuah kertas berikut wejangan Kyai tersebut. Aku tempelkan fotoku berukuran 2×3 cm dan di sebelah kiri kutempelkan gambar pujangga Jerman, Johann Wolfgang Goethe (1749-1832), di sebelah kanannya foto lukisan Imam Ghazali (w. 1111), keduanya berukuran map. Lalu kutempelkan di dinding kamar, tempat tidurku di rumah orang tuaku.

Ternyata, dua tahun kemudian, hasil bacaanku terhadap buku Faust II karya Goethe dan hasil bacaan orang-orang lain terhadap buku tersebut kuperoleh ilmu bahwa “penggantian uang emas dan uang perak dengan uang kertas bermula dari bisikan setan (mephistopheles) kepada ilmuan (faust) dan kemudian disampaikan kepada raja yang rakus“. Akupun memperoleh bacaan langsung dari kitab Ihya Ulumuddin peninggalan kakekku, Kyai Ahmad Sayuthi. Pada Jilid IV Bab Syukur, kuperoleh ilmu dari Imam Ghazali yang menyatakan “hikmah penciptaan dinar (uang emas) dan dirham (uang perak) tidak akan dapat dimengerti oleh orang yang hatinya sudah menjadi sampah hawa nafsu dan tempat permainan setan“.

Aku pun menganggap hasil bacaanku itu, mungkin antara lain berkat shalat taubat dan hajatku sebelum tidur, selama hampir setiap malam selama dua tahun tersebut. Amalan ini kuperoleh dari seorang ulama yang berpendidikan SD dan SMP di Amerika, Pesantren Gontor dan Tebu Ireng, S1 Ilmu Hukum UI dan S2 Ilmu Ekonomi Oxford University.

Akupun teringat pertanyaan-pertanyaanku berkenaan dengan uang dan ekonomi. Hal ini sebagaimana saat awal-awal duduk di kelas II Madrasah Tsnawiyah (SMP) Pesantren Daar el Qolam Gintung Tangerang, tahun 1989. Di ruang kelas berlantai tanah, berdinding papan tua, dan berjendela tanpa kaca, dalam benakku muncul pertanyaan “apa bedanya nuqud dan fulus” dan “mengapa ekonomi dalam bahasa Arabnya menjadi “iqtishadiyah”?

Dua tahun kemudian (1991) , saat mondok di Pesantren La Tansa Cipanas Lebak Banten yang berada di suatu lembah dan diapit dua gunung, dalam benak ini juga muncul pertanyaan “itu bukannya riba” terhadap prinsip ekonomi “dengan mengeluarkan modal sedikit-sedikitnya mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut  semakin mendapatkan jawabannya secara semakin luas, sejak 11-25 Desember 2014 lalu, aku mengikuti short course di Goethe Universitat Frankfurt Jerman. Akupun berkesempatan berkunjung ke museum Goethe “Goethe Haus” dan membeli beberapap buku karya Goethe, salah satunya Goethe and Money“. Buku ini cukup tebal dan tulisannya kecil-kecil dengan ukuran huruf hanya 10.

Aku juga membeli buku Islam in Deutschland karya Muslim Jerman Andreas Abu Bakr Rieger. Beliau adalah Rais yang memimpin gerakan penggunaan kembali dinar dan dirham di dunia ini. Salah satu bawahannya di Indonesia adalah  Amir Zaim Saidi yang memimpin jamaah Muslim di Indonesia menerapkan kembali muamalah.

Ingin memahami dan mengamalkan dinar dan dirham?

Silakan baca status Amir Zaim Saidi atau buku-buku karya-karyanya tentang  dinar dan dirham. Kunjungi websitrenya www.zaimsaidi.com dan www.wakalaindukbintan.com. Silakan tambahkan juga dengan shalat taubat dan shalat hajat sebelum tidur, serta memohon kepada allah subhanahu wa ta’ala untuk dimudahkan memahami dan mengamalkannya.

Wallahu a’lam bis showab