Semoga 10 Hari Terakhir Ramadhan Bebaskan Kita dari Neraka dan Riba

461

Hadits-hadits (terlepas dari derajatnya), ada yang menjelaskan:
(1) turunnya lailatul qadar
(2) sepuluh hari terakhir Ramadhan pembebas dari neraka,
(3) seluruh manusia terjerumus dalam riba,
(4) umat Islam akan banyak tapi seperti buih di tengah lautan

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya,”

(HR Ibnu Majah, hadits No.2278 dan Sunan Abu Dawud, hadits No.3331; dari Abu Hurairah).

Hadis diriwayatkan daripada Thauban r.a., bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”

Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?”

Sabda Baginda SAW: “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.”

Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?”

Jawab Rasulullah SAW, “Kerana ada dua penyakit, iaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.”

Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?”

Rasulullah SAW bersabda: “Cintakan dunia dan takut akan kematian.

Semoga 10 hari Ramadhan ini berbuah berkah antara lain sadarnya kita hidup dalam sistem riba dan keberadaan kita yang banyak ini yang laksana buih di laut. Hal ini terjadi salah satunya karena kita dalam sistem uang kertas yang distandarkan kepada dollar as.

Semoga Allah mengampuni orang-orang tua dan guru-guru kita dan juga kita yang pernah mengajarkan atau menyebut pertukaran berbagai kekayaan alam dengan hanya kertas-kertas kecil itu halal sehingga merasa suka rela padahal riba yang haram hukumnya dan mestinya kita merasa terpaksa.

Semoga kita tidak menjadi generasi muslim pada suatu abad, yang selama di dunia:
(1) sudah hidup dalam kondisi banyak muslim namun laksana buih di laut,
(2) terjerumus dalam lautan riba,

eh….malah menghalalkan sistem uang kertas (1 $ tahun 1946 = Rp. 2 kini Rp. 13.000) lagi. Dengan demikian, sudah hidup di zaman susah, di akherat harus berhadapan dengan Allah untuk mempertanggung pendapat yang menghalalkan sistem uang kertas ini.

Na’udzu Billah.

Wallahu a’lam bis showab.