Sekilas Pengalaman sebagai Profesi Peneliti Khazanah Keagamaan

751

Dalam Diklat Calon peneliti di LIPI tahun 2009 saya mempresentasikan makalah berjudul “Pemikiran Goethe tentang Islam dan Uang Kertas serta Pengaruhnya terhadap Penggunaan Dinar dan Dirham di Indonesia..”

Makalah ini juga kemudian dipresentasikan di The Habibie Center pada Peringatan HUT Johann Wolfgang von Goethe ke-260.

Makalah tersebut selanjutnya dikemas dalam bentuk artikel dan dimuat dalam jurnal Dialog edisi tahun 2010, saya mempermasalahkan mengapa (1) pada uang-uang kertas rupiah cetakan sebelum tahun 1998 terdapat tulisan: ” barang siapa memalsukan….” (2) tapi pada cetakan selanjutnya dihilangkan dan diganti “dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Bank Indonésia mengeluarkan uang sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai….

Makalah ini juga kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan kembali dipresentasikan dalam Diklat Penelitian lanjutan di LIPI tahun 2016. Adapun peserta lainnya juga terdapat beberapa peneliti dari Kementerian Perdagangan. Mereka juga mendukung agar berbagai kekayaan alam di Indonesia tidak terus ditukar dengan kertas-kertas kecil dollar melainkan dengan uang-uang emas atau barang lain yang sebanding.

Kini, saya pun bertanya:

(1) Mengapa pada uang kertas rupiah cetakan tahun 2016, frasa “BANK INDONESIA” diganti dengan “Negara Kesatuan Republik Indonesia? Karena itu, di dalamnya menjadi tertulis “dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA mengeluarkan uang sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai….

(2) Apakah penggantian frasa ini ada pengaruhnya terhadap berita tentang tidak lakunya uang kertas rupiah cetakan 2016 saat ditukar di luar negeri?

(3) Apakah penggunaan uang kertas rupiah sejak dulu (kini 1 $ = Rp. 14.500) sesuai dengan Pancasila, UUD 1945 dan UU no. 3 tahun 2004 tentang Bank Indonesia? Sebab, di dalamnya dijelaskan bahwa Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah (pasal 7)

(4) Pada pasal 10 dinyatakan: “Cara-cara pengendalian moneter sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat dilaksanakan juga berdasarkan Prinsip Syariah” (pasal 10). Karena itu, apakah pengendalian moneter selama ini sesuai syariah atau ajaran Tuhan?

(5) Sejauhmana kaitan perkembangan nilai uang kertas rupiah dengan pernyataan Sjafruddin Prawiranegara (Presiden de Javasche Bank yang kemudian menjadi Gubernur Bank Indonesia yang pertama dan juga Menteri Keuangan RI Kabinet Syahrir III)?

Sebab, beliau menyatakan uang kertas pada mulanya merupakan sertifikat atau tanda pengganti uang emas dan uang perak yang dikeluarkan oleh bank. Karena itu, orang yang memiliki kedua koin ini bisa pergi ke mana-mana dengan hanya membawa lembaran-lembaran kertas sebagai tanda memiliki uang emas dan uang perak di bank. Namun, seiring dengan peralihan sirkulasi menjadi bank negara, beredarlah uang kertas yang tidak dapat ditukarkan lagi dengan uang emas dan uang perak, tetapi hanya berlaku sebagai legal tender atau alat pembayaran yang ditetapkan oleh pemerintah. Karena itu menurutnya dengan lahirnya uang kertas, maka bahaya pemalsuan pun semakin bertambah besar (Sjafruddin Prawiranegara, Ekonomi dan Keuangan: Makna Ekonomi Islam Kumpulan Karangan Terpilih Jilid 2, Pustaka Jaya, Jakarta, 2011).