Perjalanan Lanjutan Mantan Penghina Madrasah dan Lambang Kementrian Agama

685

Image may contain: sky and outdoor

Memulai tugas setelah lebaran diGedung Kementrian Agama yang bermoto “Ikhlas Beramal dan di sebelahnya Gedung Bank Indonesia yang tujuan didirikannya untukimenstabilkan rupiah.

Bismillah…robbii anzilnii munzalan mubaarokan wa Anta Khairul Munzilin.

Memulai aktivitas setelah libur lebaran 1439 H. Berkantor di Kementerian Agama yang bermotto “Ikhlas Beramal”. Motto yang tertera pada lambang kementerian berbentuk segi lima ini dulu waktu sekolah di SDN Gandasoli kucemooh karena menurutku jelek, tidak seperti gambar burung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Selain itu, madrasah ibtidaiyah al Musthofa yang berada di bawah naungan Kementerian Agama ini juga waktu sekolah di SD kusebut sekolah “genok” (norak, kampungan, dsb). Apalagi siswa madrasah yang kebanyakan dari kampung di kaki gunung itu, pada umumnya seragamnya kucel.

Namun, kubelajar di SDN hanya tiga tahun dan selanjutnya pindah ke MI yang semula kucemooh dengan sebutan genok itu. Aku pun selanjutnya belajar di Madrasah Tsanawiyah Pesantren Daar el Qolam saat ruang kelasnya berlantai tanah serta berdinding bambu dan papan tua. Saat duduk di kelas 2, aku mempertanyakan perbedaan nuqud dan fulus. Pertanyaan ini muncul karena jika fulus artinya uang mengapa muflis yang memilki akar kata yang sama dengan fulus artinya orang yang tidak punya uang, bukan orang yang punya uang.

Puluhan tahun kemudian tepatnya sejak tahun 2003 aku pun bekerja di Inspektorat Jenderal Kementerian Agama yang lambangnya dulu kucemooh itu. Sejak tahun 2007 pindah tugas ke Badan Litbang dan Diklat. Pada tahun 2009 aku mengikuti Diklat calon peneliti di LIPI. Salah satu syarat lulus Diklat ini mempresentasikan makalah berjudul “PEMIKIRAN GOETHE TENTANG ISLAM DAN UANG KERTAS SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PENGGUNAAN DINAR EMAS DAN DIRHAM PERAK DI INDONESIA“. Penyusunan makalah ini dibimbing oleh Profesor bidang Sejarah dari LIPI, Prof. Dr. Mohammad Hisyam.

Lima tahun kemudian aku pun mengikuti short course di Goethe Universität Frankfurt Jerman, Desember 2014. Saat itu, aku juga sempat beli buku Faust II dan Goethe and Money yang ungkapkan kritik Goethe terhadap uang kertas. Menurutnya, penggantian uang emas dan uang perak dengan uang kertas bermula dari gagasan setan.

Dua tahun kemudian, aku kembali ikut Diklat Penelitian lanjutan yang mesti mempresentasikan makalah berbahasa Inggris. Makalah lima tahun sebelumnya itu pun diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berjudul “GOETHE’S THOUGHTS ON ISLAM AND PAPER MONEY AND ITS EFFECTS TOWARD THE USING OF GOLD DINAR
AND SILVER DIRHAM IN INDONESIA“. Adapun pembimbingnya Prof. Dr. Karunia Firdausi, Profesor bidang ekonomi dari LIPI. Teman-teman diklat dari Kementerian Perdagangan pun menyetujui penggunaan uang emas dan uang perak dalam perdagangan bilateral hingga internasional.

Semoga kajian tentang dinar, dirham, dan uang kertas serta hal-hal lain ini yang kugeliti selaku peneliti bidang khazanah Keagamaan ini merupakan salah satu upaya agar dapat beramal dengan ikhlas karena Allah. Atas karunia-Nya mendapatkan atasan dan kolega di kantor serta di lembaga-lembaga lainnya hingga aku dapat semakin memperdalam upaya untuk menjawab pertanyaanku dulu tentang nuqud dan fulus.

Semoga umat Islam dan umat-umat lain dapat keluar dari sistem uang kertas yang semakin zalim. Hal ini sebagaimana di Indonesia 1 dollar tahun 1946 = Rp 2 kini Rp. 14.000. Padahal kedua mata uang ini sama-sama terbuat dari kertas. Aamiin.

Apakah berupaya ikhlas beramal hanya karena Allah, bisa diwujudkan dengan membiarkan sistem keuangan yang semakin zalim ini?