Pemikiran Goethe tentang Islam dan Uang Serta Pengaruhnya Terhadap Penggunaan Dinar Dirham di Indonesia

1241

Makalah ini dipresentasikan pada Diklat Calon Peneliti di Pusbindiklat LIPI dengan Pembimbing Prof. Dr. Muhammad Hisyam, MA (Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI) dan Penguji Prof. Dr. Dwi Purwoko (Ahli Peneliti Utama LIPI), 14 Agustus 2009 dan pada HUT Goethe ke-260 di The Habibie Center Jakarta, 4 September 2009.

Makalah ini kemudian dikemas ke dalam bentuk artikel dan dimuat dalam Jurnal “Dialog”, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, No. 70, Tahun XXXIII, 2010.

Makalah ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan pembimbing Prof. Dr. Carunia Firdausi (Peneliti Utama LIPI) berjudul “GOETHE’S THOUGHTS ON ISLAM AND PAPER MONEY AND ITS EFFECTS TOWARD THE USING OF GOLD DINAR AND SILVER DIRHAM IN INDONESIA dan dipresentasikan kembali dalam Diklat Penelitian Lanjutan di LIPI pada 20 Mei 2016

PEMIKIRAN GOETHE TENTANG ISLAM DAN UANG
SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PENGGUNAAN DINAR EMAS
DAN DIRHAM PERAK DI INDONESIA

Oleh Nurman Kholis

Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama

Abstract
This article explains Goethes thoughts about Islam and paper money. Goethe said that Islam is the right religion and paper money was created by satan. His thoughts were read by Ian Dallas, who became a Moslem and Ulama with a name Syekh Abdal Qadir Al-Murabit As-Sufi. He made fatwa that Goethe was a Moslem and lead some people in Europe to reapply dinar (gold money) and dirham (silver money) since 1992. His pupils continue his struggle in Indonesia since 1999.

Keywords: Goethe, Islam, paper money, gold dinar, silver dirham

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) telah melakukan pengukuran Intelligence Quotient (IQ) terhadap tokoh-tokoh besar di dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa pujangga Jerman Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) diperkirakan memiliki IQ tertinggi dengan perolehan angka 210. Hasil pengukuran ini sekaligus memperkuat bangsa Jerman yang banyak melahirkan tokoh dan penemu berbagai bidang namun menjadikan Goethe sebagai pahlawan kebesaran mereka. Jauh sebelumnya, bangsa Jerman telah mengapresiasi Goethe dengan mengabadikan namanya menjadi lembaga yang memperkenalkan budaya Jerman. Lembaga ini bernama “Goethe Institut” yang terdapat di berbagai mancanegara, dua diantaranya terdapat di Jakarta dan Bandung. Selain itu, hari kelahiran Goethe dalam rentang waktu tertentu diperingati. Hal ini sebagaimana peringatan Hari Ulang Tahun Goethe ke-250, pada tanggal 28 Agustus 1999 yang lalu.

Pada tahun tersebut, di Jerman juga diterbitkan buku Goethe: ein letztes Universalgenie? (Goethe: Seorang Serba Bisa Yang Terakhir?) yang ditulis oleh Sebastian Donat. Buku ini menjelaskan keserbabisaan Goethe dalam berbagai bidang, penemuan dan profesi yaitu: hukum, arsitektur, teater, arkeologi, morfologi, teori warna, menteri, mineralogi, geologi, kimia, meteorologi, filsafat, agama, sejarah, matematika, ilmu kemiliteran dan ekonomi, serta sastra.

Namun, bagi warga Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam, hal yang menarik dari buku Goethe: ein letztes Universalgenie? ini adalah mengenai pemikirannya tentang Islam. Bahkan, ulasan tersebut dilengkapi dengan tulisan surat An-Nas yang ia tulis. Buku ini juga memuat ungkapan Goethe bahwa peredaran uang emas diganti dengan uang kertas merupakan hasil rekayasa setan.2 Karena itu, pemikiran Goethe tentang Islam dan uang kertas patut diteliti sehubungan dengan maraknya penggunaan kembali dinar (uang emas) dan dirham (uang perak) di Indonesia sejak satu dasawarsa yang lalu.

Penelitian tersebut dapat dijadikan salah satu upaya menjadikan ajaran Islam sebagai solusi dalam mengatasi persoalan perekonomian di Indonesia. Sebab, menurut Kepala Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama, M. Atho Mudzhar dalam forum Temu Riset Keagamaan Tingkat Nasional VI di Yogyakarta, 13-16 Oktober 2008, riset-riset keagamaan selama ini belum menunjukkan arah positif dan memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya terhadap penetapan kebijakan pemerintah yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Sebelumnya, ia juga telah mengemukakan bahwa salah satu permasalahan tersebut yaitu dalam upaya mengharmoniskan keanekaragaman masyarakat Indonesia. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan kearifan untuk memperbaiki ekonomi rakyat yang selalu dirasakan oleh semua kelompok, lapisan masyarakat dan semua daerah di Indonesia.
Menurut penulis, faktor utama dalam persoalan ekonomi ini terletak pada sistem peredaran uang kertas. Secara secara kasat mata, ketidakadilan dalam sistem ini dapat dilihat pada perbedaan nilai dolar dengan rupiah yang memiliki nilai yang jauh berbeda. Selembar kertas bernilai 1 dolar AS kini bernilai + 10.000 rupiah, 100 dolar bernilai + 1.000.000 rupiah, dan seterusnya. Dengan demikian, kekayaan alam di Indonesia pun semakin murah dan semakin mudah ditukar dengan kertas bertuliskan “dolar” dan sebagainya tersebut. Salah satu akibatnya, sekian hektar hutan menjadi gundul setelah ditukar dengan kertas-kertas tersebut. Menurut Marwah Daud Ibrahim, setiap tahunnya dua juta hektar hutan di Indonesia musnah dan kini diperkirakan hanya tinggal 60 juta hektar. Keadaan ini memungkinkan Indonesia menjadi padang pasir sebelum 2045 .

Pascakrisis moneter 1997 tersebut yang membuat nilai rupiah dan dolar semakin jauh, Bank Indonesia (BI) menggantikan kata-kata ”Barang siapa meniru, memalsukan uang kertas dan/atau dengan sengaja menyimpan serta mengedarkan uang kertas tiruan atau uang kertas palsu diancam dengan hukuman penjara” pada uang kertas yang dicetak hingga tahun 1998, diganti dengan kata-kata ”Dengan Rahmat Tuhan yang Maha Esa, Bank Indonesia mengeluarkan uang sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai….”pada uang kertas Rp.10.000 (cetakan 2005), Rp.20.000 (cetakan 2004), dan Rp.50.000 (cetakan 2005), dan Rp.100.000 (cetakan 2004).

Dengan demikian, pencantuman kata-kata ”Dengan Rahmat Tuhan yang Maha Esa” dapat diasumsikan upaya BI untuk mengaitkan sistem keuangan di Indonesia dengan ajaran agama. Karena itu, pendekatan agama khususnya Islam dalam memecahkan persoalan krisis moneter merupakan hal perlu dilakukan. Salah satunya dengan meneliti pemikiran Goethe tentang Islam dan uang kertas yang berpengaruh terhadap penggunaan dinar dan dirham di Indonesia sejak satu dekade yang lalu. Selain itu, fungsi kedua mata uang ini banyak terdapat dalam berbagai kitab kuning yang hingga kini masih dijadikan acuan dalam pengajaran di sebagian besar pesantren-pesantren di Indonesia.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pemikiran Goethe tentang Islam dan uang kertas?
2. Sejauhmana pengaruh pemikiran Goethe terhadap penggunaan kembali dinar dan dirham di Indonesia?

Teori
Komunikasi merupakan salah satu aktivitas manusia yang dilakukan dengan tujuan untuk mengubah sikap, mengubah opini, mengubah perilaku, dan mengubah masyarakat. Aktivitas ini ada yang dilakukan secara verbal baik dengan lisan dan tulisan maupun secara nirverbal yaitu dengan gerakan tubuh, gambar, dan sebagainya. Salah satu model dalam teori komunikasi adalah komunikasi dua tahap. Model ini menyatakan bahwa pesan-pesan dari media sebagian besar berlangsung secara bertahap. Tahap pertama dari media tertuju kepada opinion leader (pemuka pendapat) dan tahap kedua dari pemuka pendapat kepada angggota-anggota masyarakat.

Tujuan
Berdasarkan rumusan permasalahan tersebut, maka tujuan penelian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan pemikiran Goethe tentang Islam dan uang kertas.
2. Untuk mendeskripsikan pengaruh pemikiran Goethe terhadap penggunaan dinar dan dirham di Indonesia.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian ini berusaha mengungkap berbagai keunikan yang terdapat dalam individu, kelompok, masyarakat atau organisasi secara menyeluruh, rinci, dalam, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Miles and Huberman, 1994:6-7). Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemikiran Goethe tentang Islam dan uang kertas, serta pengaruhnya terhadap penggunaan dinar dan dirham di Indonesia.

Untuk mendeskripsikan pemikiran Goethe tentang Islam dan uang kertas, penulis menggunakan metode Biographical Study dari Denzin dan John W. Cresswell. Metode ini meneliti kehidupan, pengalaman dan pemikiran tokoh, baik yang terungkap secara langsung maupun terdapat dalam dokumen. Sealur model Denzin dan Cressell tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan prosedur: membuat fase hidup dan pengalaman secara kronologis, mengumpulkan cerita-cerita, mengorganisir seputar tema berikut pemunculannya, eksplorasi cerita-cerita, dan mendalami makna pikiran secara sosial, intelektual, dan ideologi yang kemudian dianalisis, diinterpretasi, dan disimpulkan . Sedangkan untuk mengetahui pengaruh pemikiran Goethe terhadap penggunaan dinar dan dirham di Indonesia, penulis lakukan dengan mendeskripsikan kiprah orang-orang Indonesia yang pernah bertemu dengan Syekh Abdal Qadir-As-Sufi yang memfatwakan Goethe sebagai Muslim dan menggagas penggunaan kembali dinar dan dirham, serta dengan mendeskripsikan perkembangan penggunaan kedua mata uang ini di Indonesia.

Adapun data dalam penelitian ini diperoleh dengan menginventarisasi berbagai tulisan dari buku, media cetak dan media elektronik (internet) serta wawancara. Data tersebut dianalisis berdasarkan analisis fenomenologi yang dikembangkan oleh Berger dan Luckmann. Menurut keduanya, pengamatan hendaknya perlu diseleksi terhadap kenyataan-kenyataan yang penting-penting saja dan sikap-sikap yang subjektif yang wajar dan alamiah. Perhatian difokuskan pada proses terbentuknya fakta sosial atau gejala sosial, di mana individu-individu ikut serta dalam proses pembentukan dan pemeliharaan fakta sosial, khususnya pada tingkat mikro (komunikasi tatap muka).8

HASIL DAN PEMBAHASAN

Goethe dan Islam

Johann Wolfgang von Goethe lahir di Frankfurt Jerman, 28 Agustus 1749. Pada saat kanak-kanak (1756-1763), ia sudah berhadapan dengan persoalan politik. Sebab, bapaknya yang pro-Prusia bertentangan dengan kakeknya, walikota Frankfurt yang pro kekaisaran. Saat remaja, Goethe kuliah ilmu hukum di Universitas Leipzig hingga meraih gelar ”Dr. Jur.” pada tahun 1771, dalam usia 22 tahun.
Selain berkarir dalam bidang hukum, Goethe juga berkarya dalam bidang sastra. Salah satu karyanya adalah kumpulan sajak yang berisi kekagumannya kepada Nabi Muhammad saw dan dikemas dengan judul Mahomets Gesang. Perkenalannya kepada Islam bermula dari minatnya untuk melakukan studi tentang ketimuran, karena terpengaruh oleh syair-syair karya Saadi dan aliran sufisme Jalaluddin Rumi. Ia pun belajar membaca dan menulis Arab hingga tertarik untuk mempelajari al-Quran dan menyalin ayat-ayat pendek dengan tulisan tangan sendiri. Goethe mengenal al-Quran sejak tahun 1771/1772 (saat usianya 22/23 tahun) melalui Al-Quran terjemahan karya JV Hammer dalam bahasa Jerman dan karya G. Sale dalam bahasa Inggris.

Karir Goethe baik dalam pemerintahan maupun dalam sastra terus berlanjut. Ia pun menjadi pejabat penataan kota di Negara Weimar, memimpin komisi Perang dan Direksi Pembangunan Jalan Raya yang ditempuhnya dari tahun 1778-1780. Sejak 1781, ia memperdalam studi ilmu alam, khususnya mengenai bahan mineral, asteologi, dan anatomi. Sejak tahun 1786, Goethe melakukan perjalanan bolak-balik ke Italia untuk mengembangkan bakatnya dalam melukis dan membuat karya sastra. Meskipun demikian, karirnya terus berlanjut hingga terpilih menjadi menteri negara Weimar.11

Setelah pensiun dari karir politiknya, Goethe terus mempelajari buku-buku bahasa Arab, tata bahasa, puisi, dan sejarah Rasulullah Muhammad SAW. Goethe juga gemar membeli manuskrip asli karya Rumi, Dschami, Hafis, Saadi, Attar, tafsir al-Quran, kumpulan doa, kamus Arab-Turki, teks tentang pembebasan budak, jual-beli, bunga bank, riba, dan tulisan Arab dari Sultan Salim. Tahun 1813 Goethe mendapatkan manuskrip kuno berbahasa Arab dari dari Spanyol. Manuskrip ini berisi tulisan Surat An-Nas yang selanjutnya ia salin. Bulan January 1814, dia mengunjungi pelaksanaan salat Muslim Bashkir dari tentara Rusia yang bertempat di Weimar. Sejak usia yang 65 tahun (1814), ia berkonsentrasi untuk membuat syair-syair tentang ketimuran. Karya sastra ini dikemas dalam judul West-östliche Divan yang diselesaikannya pada tahun 1819. Pada tahun 1825, Goethe mengerjakan kembali karya sastranya yang lain Faust untuk bagian kedua hingga diselesaikannya pada tahun 1831, setahun sebelum ia wafat, 22 Maret 1832.11

Pemikiran Goethe tentang Islam

Saat berusia 24 tahun (1773), Goethe telah mengungkapkan kekagumannya kepada Nabi Muhammad saw dan pujian kepada ajaran Islam yang indah dan dinamis. Kekaguman tersebut ia tuangkan dalam syairnya Mahomet Gesang. Salah satu baitnya berbunyi:”Juga kalian, mari/ Dan kini lebih ajaib dia membesar-meluas/ Seluruh ras menyanjung pangeran ini.”12
Dalam surat yang dikirim kepada anak tunggalnya August, 17 Januari 1814. Goethe mengatakan ”Beberapa agama telah mengecoh kita sampai kemudian datang al-Quran ke perpustakaan kita”. Pada Februari 1816, ia juga menulis ”Puisi ini tidak menolak kebenaran bahwa diri ini adalah seorang Muslim. Tentang Nabi Muhammad saw, ia juga menulis ”Dia seorang Rasul dan bukan penyair, dan oleh karenanya Al-Quran ini hukum Tuhan. Bukan buku karya manusia yang dibuat sekadar bahan pendidikan atau hiburan”.12

Keyakinan Goethe terhadap kebenaran ajaran Islam, ia tuangkan dalam kumpulan syairnya West-östliche Divan. Judul tersebut juga ditulis dalam huruf dan bahasa Arab Al-Diwan Al-Syarqiyyu li Al-Muallifi Al-Gharbiyyi. Sajak pertamanya dalam buku ini ia beri judul Hegire yang berasal dari kata Hijrah. Menurut Katharina Mommsen, syair ini Goethe tulis pada 24 Desember 1814, pada malam Natal, saat pemeluk agama Kristen sedang merayakan kelahiran Nabi Isa as. Di dalam bait-bait syair tersebut, ia mengatakan: ”Utara, Barat dan Selatan Porakporanda/Mahkota-mahkota hancur terpencar, Kerajaan bergetar/ Apakah suara terompet itu memebahanakan hari pengadilan Akhir?/ Dengarlah suara Perintah pada penyair: Selamatkan dirimu, dan pergilah ke Timur serta dalam kemurnian Timur nikmatilah perlindungan Yang Mulia.”

Goethe juga mengatakan ”dan kebenaran itu pasti bersinar/Apa yang diakui oleh Muhammad/Hanya dengan pengertian satu Tuhan/Dia menguasai segalanya di dunia ini”. Kekagumannya terhadap al-Quran, ia ungkapkan dengan kata-kata, ”Apakah Al-Quran itu abadi?/Saya tidak meragukannya/Inilah buku dari buku-buku/Saya meyakini kitab suci Muslim itu”. Sedangkan keyakinannya tentang kebenaran ajaran Islam, ia berkata ”Sungguh bodoh, dalam setiap hal/ orang memuji pendapatnya sendiri/Apabila Islam berarti berserah diri kepada Tuhan/dalam Islamlah kita hidup dan mati”.

Pemikiran Goethe tentang Uang

Goethe hidup dalam masa transisi pemberlakuan uang kertas yang menggantikan uang emas dan uang perak. Karena itu, ia membuat 46 buku yang dilatarbelakangi sikap skeptisnya terhadap pemberlakuan uang kertas tersebut.2Hal ini sebagaimana ia tuangkan dalam buku Faust II. Dalam buku tersebut dikisahkan seorang ilmuwan kimia bernama Faust yang berusaha membuat emas dari logam biasa demi meraih pengetahuan tertinggi dan memuaskan kesenangan manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut ia membuat perjanjian dengan iblis bernama Mephistopheles. Keduanya kemudian bertemu seorang Kaisar yang kehabisan dana untuk membayar gaji tentara serta pelayan. Mephistopheles kemudian menawarinya jalan keluar dengan mencetak kertas yang ditandatangani Kaisar dan kemudian diedarkan kepada masyarakat.

Goethe telah melihat ekonomi uang modern yang didasarkan pada uang kertas merupakan kelanjutan cara-cara kimiawi dengan cara lain. Meskipun menulis dalam dekade awal abad ke-19, ia sudah meramalkan banyak pencapaian industrial pada abad berikutnya. Jauh sebelum Amerika Serikat (AS) diperhitungkan dalam pentas sejarah dunia, ia juga sudah memperkirakan bahwa AS akan membangun terusan untuk menghubungkan Samudera Atlantik dan Pasipik tersebut. Dengan demikian, Goethe sudah melihat sebelum waktunya capaian besar dunia industri yang akan didanai dengan sistem moneter uang kertas.14

Pernyataan Goethe bahwa uang kertas adalah ciptaan setan memiliki korelasi dengan pemikiran Imam al-Ghazali yang menyatakan bahwa hikmah penciptaan dinar dan dirham tidak akan ditemukan di dalam hati yang berisi sampah hawa nafsu dan tempat permainan setan. Dengan demikian, Islam yang dipahami oleh Imam Ghazali dan Goethe membuahkan pemahaman yang sama, yaitu dinar dan dirham sebagai mata uang yang diciptakan oleh Allah sedangkan uang kertas ciptaan setan. Pemahaman ini juga diperjelas oleh Jack Weatherford yang menyatakan bahwa Al-Quran melarang riba lebih jelas daripada Injil, karena secara spesifik Al-Quran melarang penjualan “sesuatu yang sudah ada (nyata) dengan sesuatu yang tidak ada (gaib).14Pertukaran yang nyata dengan yang gaib ini seperti pertukaran uang kertas (yang semula sebagai kuitansi tentang sejumlah uang emas atau uang perak) dengan ayam, kambing, hutan, dan sebagainya.

Pengaruh Pemikiran Goethe terhadap Syekh Abdal Qadir As-Sufi

Salah seorang pembaca karya Goethe adalah Ian Dallas. Ia dilahirkan di Skotlandia pada tahun 1930 yang menempuh pendidikan di Universitas London dan kemudian bekerja sebagai penulis naskah pada TV BBC London. Ia juga bekerja sebagai aktor dan promotor tokoh-tokoh di dunia hiburan seperti grup legendaris The Beatles. Setelah merasa jenuh dengan budaya pop tersebut, pada tahun 1960 ia berangkat ke Maroko dan bertemu dengan Syekh Muhammad Ibnu Habib hingga mengucapkan dua kalimah syahadat dan kemudian menjadi muridnya dengan nama baru Abdal Qadir. Setelah kembali ke London, Abdal Qadir yang nama panggilannya menjadi Syekh Abdal Qadir al-Murabit As-Sufi selanjutnya juga menjadi mursyid tarekat Syadziliyah Darqawiyah.

Kiprah Syekh Abdal Qadir menjadikan semakin bertambahnya orang-orang Eropa yang memeluk Islam. Ia pun mengkaji lebih dalam berbagai bahan dan sumber hingga ia menyimpulkan bahwa Goethe seorang Muslim. Pada tahun 1995, sebuah lembaga bernama Weimar Institut mempublikasikan penemuan tersebut dalam sebuah buku yang dikemas dalam judul ”Fatwa on The Acceptance of Goethe as Being Muslim” yang disahkan oleh Abu Bakr Rieger, seorang pengacara di Jerman yang juga muridnya. Fatwa ini juga dipublikasikan dalam tabloid Islamische Zeitung Nr. 5/1995 dalam judul ”Fatwa über die Anerkennung Goethes als Muslim”.

Fatwa tersebut menyatakan bahwa Goethe telah mendeklarasikan komitmen dalam syahadat, tiada Tuhan selain Allah yang Tunggal dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Meskipun tidak pernah mendapatkan pengajaran salat, zakat, saum, dan haji, dia bangga dan dengan emosi yang dalam menghadiri salat jumat. Karena itu, Syekh Abdal Qaidir menegaskan bahwa pujangga kebesaran Eropa dan yang mengharumkan bahasa Jerman ini adalah Muslim pertama Eropa Modern dan menurutnya dulu di kalangan kaum Muslimin dia dikenal sebagai Muhammad Johann Wolfgang von Goethe.11

Bahkan, sebuah dokumen mengungkapkan bahwa beberapa saat sebelum wafat, Goethe menggerakkan telunjuknya dan membentuk huruf “W” yang oleh sebagian kalangan dianggap menuliskan nama tengahnya (Wolfgang) dan sebagian lainnya menganggap itu kata اﷲ (“Allah”) dalam huruf Arab, karena telunjuk tersebut bergerak dari kanan ke kiri. Pemberitaan ini juga disampaikan oleh Haji Asadullah Yate, ulama dari Jerman yang juga salah seorang murid Syekh Abdal Qadir As-Sufi saat berkunjung ke Jakarta dan bertemu dengan penulis pada bulan Mei 2004. Berkenaan informasi tentang Goethe yang sebelum wafat menyebut nama Allah tersebut, Nabi Muhammad saw bersabda: “Barang siapa ucapan terakhirnya : La ilaha illallah, maka dia masuk surga” (HR Abu Daud & Al-Hakim).
Selain mengapresiasi pemikiran Goethe tentang Islam, Syekh Abdal Qadir juga mengapresiasi pemikiran Goethe yang mengkritik pemberlakuan uang kertas. Karena itu menurutnya, untuk membangun suatu komunitas Muslim di Barat yang dapat memberi kontribusi bagi perbaikan dunia adalah dengan membersihkan sistem keuangan global. Ia pun meminta salah seorang muridnya yaitu Umar Ibrahim Vadillo yang berasal dari Spanyol untuk menelaah teks-teks klasik Islam dan memintanya untuk meneliti implikasi penggunaan dirham dan dinar bagi zaman modern. Vadillo menemukan aturan fiqh yang melarang penggunaan uang kertas sehingga pada tanggal 18 Agustus 1991 keluarlah fatwa berjudul Fatwa Concerning the Islamic Prohibition of Using Paper Money as a Medium of Exchange. Setahun kemudian, fatwa tersebut ditindaklanjuti dengan pencetakan dinar dan dirham di Spanyol, Jerman, Inggris dan Afrika Selatan.

Pada tahun ini, juga diterbitkan buku karya Vadillo berjudul The End of Economic: an Islamic Critique of Economic. Mururutnya, kebangkitan Muslim Eropa zaman ini berkat bimbingan Syekh Abdal Qadir Al-Murabit dan menjadikan Goethe yang juga seorang Muslim sebagai panutan. Vadillo menambahkan bahwa Goethe sudah mengetahui bahwa di balik slogan keadilan, kebebasan, dan persaudaraan yang disuarakan dalam peristiwa revolusi Perancis, terkandung legitimasi riba dan upaya untuk penyebarluasan peredaran uang kertas yang tidak punya nilai. Namun, hak pemakaian uang kertas secara khusus hanya dinikmati oleh bank pemerintah atau bank swasta yang memperoleh legitimasi dari peraturan yang dibuat dan dipaksakan pemerintah.

Penggunaan Dinar dan Dirham di Indonesia

Pascakrisis moneter 1997, ketidakadilan dalam pemberlakuan uang kertas dirasakan berbagai kalangan. Setahun kemudian, di Indonesia terbit dua buah buku terjemahan yang berisi gugatan terhadap uang kertas. Buku-buku tersebut ditulis oleh murid-murid Syekh Abdal Qadir al-Murabi as-Sufi, yaitu Dajjal-The Antichrist karya Ahmad Thomson yang diterjemahkan oleh Ahmad Iwan Ajie dkk menjadi Sistem Dajjal. dan buku Jerat Utang IMF? yang ditulis oleh Abbdur-Razzaq Lubis (murid Syekh Abdal Qadir di Malaysia) dkk dengan pengantar dari Zaim Saidi. Pada tahun 1999, Ahmad Iwan Ajie bersama kedua temannya Dwito Hermanadi dan Hendri Firman berkunjung ke Maroko untuk bertemu Syekh Abdal-Qadir as-Sufi yang saat itu tinggal di sana. Atas pengajaran Syekh Abdal Qadir, sekembalinya ke Indonesa ketiganya pun kemudian mencetak dinar dan dirham. Sejak itu, ketiganya dan Zaim Saidi yang berprofesi sebagai direktur Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) mengadakan sosialisasi tentang dinar dan dirham dalam berbagai forum.

Atas prakarsa mereka, Adi Sasono yang saat itu menjabat Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) melakukan kunjungan dan bertemu dengan Syekh Abdal Qadir As-Sufi di Cape Town Afrika Selatan pada tahun 2002. Mantan Menteri Koperasi dan PKM Kabinet Reformasi ini selanjutnya mengagas diselenggarakannya Silaturrahmi Kerja Nasional (Silaknas) ICMI pada 24 s.d 26 Januari 2003. Dalam Silaknas tersebut berisi program untuk memasyarakatkan penggunaan dinar dan dirham . Kegiatan ini dikoordinir oleh Sugiharto dan acara pembukaannya dihadiri oleh Jusuf Kalla (kini Wakil Presiden Indonesia). Karena itu, saat menjabat Menteri Negara BUMN Kabinet Indonesia Bersatu, Sugiharto mengusulkan dinar dan dirham digunakan sebagai mata uang ASEAN. Hal ini ia sampaikan pada pembukaan Konferensi Uang Logam ASEAN di Jakarta, 19 September 2005 . Sedangkan pada tahun 2007, Wapres Jusuf Kalla mengusulkan agar dinar menjadi standar dalam penentuan harga minyak internasional. Hal ini ia sampaikan setelah bertemu Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad. Ia kemudian mengatakan kepada para wartawan, “gagasan Iran mengganti dolar AS dengan euro karena lebih stabil. Kenapa nggak dengan dinar saja yang lebih memiliki value.”

Secara praktis upaya pencetakan dan penyebarluasan dinar dan dirham di Indonesia terus dilakukan oleh Zaim Saidi dan kawan-kawan dengan mendirikan wakala (agen pertukaran) dinar dan dirham. Untuk memperdalam ilmu tentang kedua mata uang ini, dari pertengahan 2005 hingga pertengahan 2006, ia berguru kepada Syekh Abdal Qadir As-Sufi dan Umar Ibrahim Vadillo yang tinggal di Afrika Selatan. Sekembalinya ke Indonesia, ia semakin giat mensosialisasikan gerakan penggunaan kembali kedua mata uang ini. Zaim Saidi yang pernah menjadi wartawan Republika juga menggagas pemberitaan kurs dinar terhadap rupiah. Sejak 14 Juli 2006, harian ini pun setiap hari memberitakan kurs kedua mata uang emas dan kertas tersebut. Selain itu, ia juga terus memperjuangkan pendirian wakala, agen pertukaran dinar dan dirham yang telah ia rintis sejak tahun 1999. Kini, sekitar 50-an wakala tersebar di berbagai kota di Indonesia.22

Salah satu transaksi jual beli dengan dinar sebagai alat tukar sebagaimana terjadi pada tanggal 7 April 2009. Saat itu, Ahmad Watik Pratiknya menyerahkan koin dinar emas sebagai bagian pembayaran pembuatan situs The Habibie Center kepada Riki Rokhman. Sebulan kemudian transaksi yang lebih banyak berlangsung pada Festival Hari Pasaran yang digelar di Pondok Pesantren Daarut Tauhid (DT) pimpinan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), di Bandung pada tanggal 10 Mei 2009. Dalam acara ini terjadi transaksi 65 Dinar Emas dan lebih dari 400 Dirham Perak dengan aneka komoditas antara 35 orang pedagang dengan para pembeli. Festival Hari Pasaran Dinar Dirham Nusantara juga diselenggarakan di Lapangan Parkir Masjid Salman ITB, Jl. Ganesha No.7 Bandung pada 19-21 Juni 2009. Lebih dari 40 pedagang berpartisipasi dan terjadi transaksi 350 Dirham dan 75 Dinar. Menurut salah satu panitia dari DKM Masjid Salman ITB, Thorik Gunara, kegiatan pasar terbuka ini akan menjadi agenda rutin dan direncanakan akan diselenggarakan sebulan sekali.

Penggunaan Dinar dan Dirham dalam Sejarah Indonesia

Lalu lintas uang di Indonesia sudah ada sejak abad ke-4 Masehi sebelum kedatangan kebudayaaan Hindu. Pada zaman itu uang stempel dari pengusaha diterima sebagai jaminan bahan pembuatan uang yang secara intrinsik sering berada di bawah nilai nominalnya. Sejak datang kebudayaan Hindu, koin emas dan terutama koin perak mulai diberlakukan. Selain mata uang emas juga beredar mata uang gobog yang terbuat dari kuningan dan perunggu. Peredaran uang emas juga berlaku di pulau Sumatra juga dijelaskan dalam buku Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua yang ditulis oleh Uli Kozok. Sedangkan Claude Guillot dalam buku Barus Seribu Tahun Yang Lalu menyatakan bahwa karena sebagai penghasil emas, maka uang emas dan juga uang perak diberlakukan sebagai alat tukar di Barus. Pada perkembangan selanjutnya, hubungan Barus dengan Timur Tengah yang erat sejak abad ke-14 membuat kota ini menjadi salah satu pusat Islam yang pertama dan paling penting di Sumatra.

Pada zaman itu, berdiri kesultanan Islam pertama di Nusantara yang dipimpin oleh Malik al-Saleh dan selanjutnya digantikan oleh puteranya, Sultan Muhammad Malik Al-Zahir (1297-1326). Ia pun mempelopori pencetakan uang emas berornamen Islam yang pertama di Nusantara. Pada salah satu koin tersebut tertulis nama ”Muhammad Malik al-Zahir”. Selain sebagai alat tukar, pemberlakuan dinar dan dirham ini merupakan pelaksanaan ajaran Islam sebagaimana dijelaskan dalam berbagai kitab kuning.

Kedua mata uang ini, kemudian hilang dari peredaran dengan diberlakukannya uang kertas sejak abad ke-20. Nilai mata uang tiap negara selanjutnya distandarkan kepada dolar AS seiring didirikannya Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) pada tahun 1944. Keberadaan kedua lembaga ini membuat Indonesia semakin terjerumus ke dalam krisis ekonomi. Sebab, meski secara politis merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 namun secara ekonomis semakin terjajah karena dalam perjanjian Renville antara Indonesia dan Belanda tahun 1945 telah disepakati persetujuan pada Konferensi Meja Bundar di Denhag Belanda. Salah satu hasil persetujuan dalam konferensi ini adalah berdirinya Republik Indonesia telah mewarisi hutang sebanyak 1,130 juta Dolar Amerika dari Pemerintah Hindia Timur Belanda. Sejak tahun 1950, pemerintah Indonesia telah memiliki dua jenis utang, yaitu utang luar negeri warisan Hindia Belanda senilai 4 miliar Dolar AS dan utang luar negeri baru sebesar Rp 3,8 miliar yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Hendri Saparini dalam diskusi di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina, 6 Mei 2009, utang luar negeri Indonesia kini sebesar Rp. 1667 triliun, sehingga setiap orang Indonesia menanggung utang Rp. 7,5 juta.

KESIMPULAN
Berdasarkan pengukuran IQ yang dilakukan oleh SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence) terhadap para tokoh besar di dunia, Goethe adalah tokoh yang diperkirakan memiliki IQ yang paling tinggi. Meskipun hidup di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim, ia juga meyakini kebenaran ajaran Islam. Hal menarik lainnya dari Goethe adalah kritiknya terhadap penggunaan uang kertas menggantikan uang emas dan uang perak yang menurutnya merupakan hasil rekayasa setan.

Pemikiran Goethe tentang Islam dan uang kertas dibaca oleh Ian Dallas hingga ia tertarik kepada ajaran Islam. Setelah menjadi Muslim, namanya menjadi Syekh Abdal Qadir As-Sufi dan memfatwakan Goethe wafat sebagai Muslim. Ia pun menggagas penggunaan kembali dinar dan dirham hingga kedua mata uang ini berhasil dicetak kembali dan disebarluaskan oleh para muridnya. Dalam perkembangan selanjutnya, pertemuan Syekh Abdal Qadir dengan para tokoh di Indonesia berpengaruh terhadap penyebaran gerakan untuk memberlakukan kembali dinar dan dirham di Indonesia.

SARAN
Berkenaan dengan pemikiran Goethe tentang Islam, Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama perlu melakukan penelitian lebih lanjut. Hal ini antara lain dilakukan dengan kajian filologis terhadap naskah-naskah yang ditulis Goethe tersebut. Sedangkan terkait pemikirannya tentang uang kertas yang berpengaruh terhadap penggunaan dinar dan dirham di Indonesia, maka perlu dilakukan penelitian filologi dan arkeologi tentang mata uang dinar dan dirham. Hasil-hasil penelitan dapat dikembangkan untuk merekonstruksi sejarah sistem keuangan di Indonesia dan mengkorelasikannya dengan gerakan penggunaan kembali dinar dan dirham yang sejak satu dasa warsa yang lalu marak di Indonesia.

Dalam perkembangan selanjutnya, Departemen Agama juga dapat mengusulkan penerapan kembali definisi jual beli sebagai barter sebagaimana terdapat dalam literatur keagamaan klasik, seperti kitab kuning. Prinsip ini dijalankan dalam rangka menaati perintah Allah yang menyuruh untuk berbuat adil, seperti adil dalam berjual beli. Dengan demikian berdasarkan prinsip tersebut, jika negara-negara asing mau membeli berbagai kekayaan alam di Indonesia, pemerintah Indonesia harus meminta mereka agar alat tukarnya dengan uang emas atau uang perak bukan dengan tumpukan lembaran uang kertas. Jika mereka tidak mau atau tidak mempunyai kedua mata uang ini, maka dengan barang lainnya yang sebanding dengan barang yang mereka beli.

Bogor, 14 Agustus 2009, seminggu menjelang Ramadhan 1430 H & dua minggu menjelang HUT Goethe yang ke-260,…Al-Fatihah

Catatan Akhir
1. Top 10 Geniuses. http://www.listverse.com, dan Estimated IQs of some of the Greatest Geniuses. http://www.hem.bredband.net, diakses 5 Juli 2009. Tokoh lainnya antara lain: Galileo Galilei (185), Immanuel Kant (175), Charles Darwin (165), Nicolaus Copernicus (160). Angka-angka ini diberi kriteria 145-164 = genius, 165-179 = high genius, 180-200= highest genius, dan di atas 200 = unmeasurable genius.
2. Donat, Sebastian. 1999. Goethe – ein letztes Universalgenie?. Wallstein Verlag, Gottingen
3. Puslit UIN Sunan Kalijaga Selenggarakan Temu Riset Keagamaan Tingkat Nasional VI. http://www.uin-suka.ac.id, diakses tanggal 20 Maret 2009
4. Mudzhar, M. Atho. 2005. Pengembangan Masyarakat Multikultural Indonesia dan Tantangan ke Depan. Dalam Ridwan Lubis (ed.). Meretas Wawasan dan Praksis Kerukunan Umat Beragama di Indonesia. Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Dep. Agama, Jakarta: 6
6. Ibrahim, Marwah Daud, Membangun Etika dan Kemandirian Bangsa, Makalah dalam Diskusi Silaknas ICMI, Pontianak, 25 Januari 2003
7. Effendi, Onong Uchjana. 1993. Ilmu, Teori, & Filsafat Komunikasi. PT Citra Aditya Bakti, Bandung.
8. Wiryanto. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Grasindo, Jakarta
9. Basrowi & Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Rineka Cipta, Jakarta
10. Solihin, Muchtar. 2001. Ilmu Laduni Menurut Al-Ghazali. Abstraksi Disertasi. Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
11. Goethe, Johann Wolfgang Von. 1999. Faust (diterjemahkan oleh Agam Wispi). Yayasan Kalam & Goethe Institut, Jakarta
12. Al-Murabit, Shaykh Abdalqadir, Fatwa on The Acceptance of Goethe as being a Muslim. Tanpa Tahun. Weimar Institut, Weimar.
13. Al-Hafidz, Said Ramadhan. 2006. Tokoh-tokoh Terkemuka Dunia Yang Masuk Islam. Takbir Publishing House, Bandung.
14. Goethe, J.W. 1971. Der West-ostliche Divan, dtv GmbH & Co. KG, Munchen.
15. Weatherford, Jack. 2005. Sejarah Uang (terjemahan Noor Cholis dari The History of Money). Bentang Pustaka, Yogyakarta.
16. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad. 1424 H/2003 M. Ihya Ulum al-Din (Jilid IV). Daar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut.
17. Saidi, Zaim. 2002. Lawan Dolar dengan Dinar. Pustaka Adina, Jakarta
18. Goethe was Muslim. http://www.youtube.com, diakses tanggal 5 Agustus 2009
19. Gerakan Murabitun Pelopor Pengembalian Kejayaan Dinar dan Dirham. Suara Hidayatullah, 06/XV/ Oktober 2002: 41
20. Vadillo, Umar. 2005. Bank Tetap Haram: Kritik Islam terhadap Kapitalisme, Sosialisme dan Perbankan Syariah (terj.). Pustaka Zaman, Jakarta
21. Thomson, Ahmad. 1998. Sistem Dajjal (terjemahan Ahmad Iwan Ajie dkk dari Dajjal-The Antichrist). Semesta Hadi Racana, Bandung.
22. Lublis, Abdur-Razzaq. 1998. Jerat Utang IMF?. Mizan, Bandung.
23. Wawancara dengan Zaim Saidi, 9 Agustus 2009
24. ICMI Usulkan Penggunaan Dinar dan Dirham Bertahap. Republika, 28 Januari 2003
25. Menneg BUMN Usulkan Dinar dan Dirham. Kompas, 20 September 2005: 22
26. RI Kaji Transaksi Minyak Tanpa Dolar. Republika, 19 November 2007: 1
27. “The Habibie Center Bertransaksi Dinar” http://www.jawaradinar.com, diakses tanggal 5 Agustus 2009.
28. ”Kembalinya Pasar di Gegerkalong. http://www.jawaradinar.com, diakses tanggal 5 Agustus 2009
29. “Belanja dengan Dinar-Dirham di Salman. http://www.jawaradinar.com, diakses tanggal 5 Agustus 2009.
30. Creutzberg, Pieter. 1987. Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
31. Kozok, Uli. 2008. Kitab Undang-undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua. Yayasan Naskah Nusantara & Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
32. Guillot, Claude. 2008. Barus Seribu Tahun Yang Lalu, Forum Jakarta Paris, Jakarta
33. ”Saksi Sejarah Kejayaan Pasai”, Republika, 21 Mei 2008, h. 8
34. Lubis, Abdur-Razzaq. 2001. Riba: Akar Penyebab Ketidakadilan Saat ini dalam Dinar Emas, Solusi Krisis Moneter. PIRAC, SEM Institute, Infid, Jakarta: 47
35. Revrisond Baswir, ”Republik Utang”, Republika, 17 April 2006, h.1&11
36. Suara Islam, edisi 67, 15 Mei-5 Juni 2009