Mi’raj dan Pendaratan di Bulan

2018

Dalam peringatan Isra Mi’raj sesekali terdengar seorang penceramah mengaitkan peristiwa ini dengan pendaratan manusia di bulan. Kurang lebih seabad yang lalu, kemampuan untuk melakukan pendaratan tersebut menjadi polemik di kalangan umat Islam di Indonesia. Hal ini sebagaimana disampaikan seorang pembaca dalam majalah “Gema Islam” No. 21 Tahun I, 1 Desember 1962 kepada Buya Hamka: “Saya bertanya kepada kepada seorang ulama terkemuka di tempat saya. Beliau menyatakan: “Jika manusia mendarat di bulan maka batallah kerasulan Nabi Muhammad SAW”. Hamka pun menjawab justru pendaratan manusia di bulan ini akan membuat semakin nyata kerasulan Nabi Muhammad SAW. Salah satu argumentasi Hamka adalah firman Allah: Wahai sekalian jin dan manusia, jika kamu mampu menembus dari ruang angkasa langit dan bumi maka tembuslah. Tetapi tidaklah kamu akan dapat menembusnya, kecuali dengan “sulthan” (Q.S. Ar-Rahman: 33). Menurutnya, “sulthan” itu berarti pengetahuan. Hamka pun menjelaskan orang yang tidak meyakini manusia dapat mendarat di bulan karena mereka masih menggunakan tafsir karya ulama 300 atau 700 tahun yang lalu.

Karena itu, beredarnya berita pendaratan Neil Amstrong dan Edwin Aldrin tujuh tahun kemudian pada bulan Juli 1969 semakin memperkuat pendapat mereka yang meyakini manusia dapat mendarat di bulan. Meskipun demikian, masih saja ada umat Islam yang tidak mempercayainya. Hal ini sebagaimana diulas oleh K.H. Mansur Jufri dalam bukunya ”al-Masail” Jilid II yang diterbitkan di Sukabumi pada bulan September 1969, dua bulan setelah berita pendaratan ini beredar. Ia memiliki pandangan yang sama dengan Buya Hamka dan juga menjadikan ar-Rahman ayat 33 sebagai salah satu argumentasinya. Ia pun menambahkan berita pendaratan tersebut justru akan memperkuat iman atas kebenaran mi’raj Nabi Muhammad SAW. K.H. Mansur pun berusaha meyakinkan pihak yang kontra dengan menyatakan bahwa gambar bulan dari jarak dekat dan siaran televisi yang disaksikan oleh berjuta-juta manusia di dunia, benda-benda bulan yang dibawa oleh para astronot seperti tanah dan batu merupakan bukti-bukti autentik.

Pihak yang pro pun semakin mengungguli pihak yang kontra seiring semakin banyaknya buku-buku pelajaran di sekolah yang menampilkan tulisan, foto, dan video tentang pendaratan kedua astronot Amerika ini. Umat Islam pun semakin banyak yang meyakini pendaratan tersebut terutama setelah Neil Armstrong dikabarkan masuk Islam. Menurut pengakuannya kepada majalah ”The Star” Kuala Lumpur, ia mendengar suara azan waktu di bulan yang membuatnya masuk Islam. Berita ini selanjutnya juga disebarkan melalui salah satu lagu grup kasidah Nasyida Ria. Salah satu lirik lagu tersebut berbunyi: ”Neil Amstrong antariksawan, manusia pertama ke bulan. Di bulan dengar suara azan…”. Selain itu, ada juga ucapan yang dimaksudkan agar umat Islam tidak disibukkan dengan perbedaan dalam hal-hal yang tidal prinsipil: ”orang lain sudah pergi ke bulan, ini masih memperdebatkan qunut, jumlah rakaat tarawih, dan sebagainya”. Akhirnya, suara yang kontra terhadap pendaratan manusia di bulan pun semakin mengecil seiring semakin terpesonanya sebagian besar umat Islam oleh kemajuan teknologi informasi.

Namun, beberapa tahun belakangan ini pendapat dari pihak yang kontra kembali muncul kepada khalayak luas di Indonesia melalui media massa. Hal ini sebagaimana ditulis oleh Rakaryan Sukarjaputra dalam Kompas edisi 13 Juli 2009 berjudul “Manusia Belum Pernah Mendarat di Bulan”. Di dalamnya dijelaskan keganjilan video dan foto pendaratan Apollo 11 di bulan pada 21 Juli 1969 seperti berkibarnya bendera Amerika Serikat padahal di bulan tidak ada udara. Ia juga mengutip keganjilan lainnya yang disampaikan astronom Phil Plait tentang foto tersebut yang memperlihatkan langit tanpa bintang, padahal di bulan tidak ada atmosfer sehingga bintang-bintang seharusnya terlihat lebih terang. Karena itu, sejumlah pihak menganggap video tersebut tidak dibuat di bulan namun di sebuah tempat khusus di sekitar Negara Bagian Arizona, AS.

Kejanggalan pada foto dan video tersebut sebelumnya secara panjang lebar telah ditulis oleh Sony Set dan Andra Nuryadi dalam buku “Manusia Tidak Pernah Mendarat di Bulan?” (Gramedia Widiasarana Indonesia, 2004). Keduanya juga mengungkapkan keganjilan lainnya yaitu kemampuan Apollo 11 yang diberitakan dapat menempuh perjalanan sekitar 700.000 km tanpa mengisi bahan bakar ulang dan memiliki kecepatan 11 km/detik. Tetapi, anehnya teknologi tahun 1969 itu tidak dapat ditiru atau ditingkatkan pada masa-masa sesudahnya. Pada tahun 1990, NASA hanya sanggup menerbangkan 24 pesawat ulang-alik menuju orbit bumi di ketinggian 300-1000 km dari permukaan bumi. Keduanya juga mengkritisi bayangan pada foto Edwin Aldrin yang memiliki bayangan yang jauh lebih panjang dibandingkan Neil Armstrong. Sebab, jika di bulan hanya terdapat satu sumber cahaya yaitu matahari, seharusnya bayangan kedua astronot tersebut sama panjangnya untuk 1 lokasi datar yang berdekatan. Karena itu, secara logis menurut keduanya peristiwa ini terjadi di sebuah studio yang menggunakan berbagai macam lampu penyinaran. Keduanya juga mengkritisi foto jejak kaki yang becek dan lembap. Padahal, kawasan bulan bertemperatur sangat panas, berdebu, dan kering kerontang. Dengan demikian, jejak tersebut dicurigai dari suatu tempat yang mengandung air dengan kepadatan tanah yang rendah karena lembap.

Selain dalam tulisan dan buku tersebut, di internet juga telah banyak tulisan yang berisi ketidakpercayaan terhadap video, foto, dan pendaratan manusia di bulan. Dengan demikian, kontestasi pihak yang pro dan kontra terhadap pendaratan tersebut baik dalam perspektif akal maupun ajaran agama akan tetap berlanjut dengan posisi pihak yang kontra akan semakin meluas. Karena itu, penulis pun berusaha mengetahui kalangan umat Islam mana saja yang kontra terhadap peristiwa tersebut. Beberapa dari mereka pun akhirnya penulis temui. Mereka antara lain para kyai di Serang dan Sukabumi serta lulusan pesantren di Garut dan Kudus. Di pesantren-pesantren tersebut hanya dipelajari kitab-kitab kuning dan tanpa buku-buku pelajaran sebagaimana dipelajari di sekolah-sekolah umum.

Beberapa argumentasi ketidakpercayaan mereka terhadap pendaratan manusia di bulan salah satunya karena benda ini berada di dalam langit bukan di bawahnya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam al-Quran: ”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan di dalamnya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? (Q.S. Nuh: 15-16). Karena bulan berada di langit, maka tidak mungkin ada yang bisa mencapainya. Bahkan malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW, dan buraq pun tidak bisa menembusnya kecuali setelah diizinkan oleh Allah. Sementara itu, surat ar-Rahman ayat 33 yang digunakan sebagai salah satu argumentasi oleh mereka yang pro terhadap berita pendaratan manusia di bulan, menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah adalah tidak tepat. Ia pun mengutip tim penulis Tafsir al-Muntakhab yang menyatakan bahwa upaya menembus langit dan bumi yang berjarak jutaan tahun cahaya itu mustahil dapat dilakukan oleh jin dan manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh al-Quran tentang Jin yang menyatakan: ”Sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tingkat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi, sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (Q.S. al-Jinn: 9). Adapun surat ar-Rahman ayat 33 dimaksudkan sebagai peringatan dan tantangan bagi mereka yang bermaksud menghindar dari tanggungjawabnya di akhirat kelak. Dengan demikian, ayat ini tidak berbicara dalam konteks duniawi, apalagi menyangkut kemampuan manusia angkasa luar. Karena itu, perintah ”tembuslah!” bukan untuk dilaksanakan melainkan perintah yang menunjukkan ketidakmampuan manusia untuk memenuhinya.

Berita pendaratan manusia di bulan tersebut juga telah dinyatakan oleh Rusia sebagai suatu kebohongan dan disampaikan melalui situs dan film dokumenter di TV. Sebagai reaksi atas maraknya situs dan film tersebut, Presiden AS George W Bush pada tahun 2004 meluncurkan program konstelasi yang bertujuan untuk membawa warga AS agar dapat kembali ke bulan pada tahun 2020 (Kompas, 13 Juli 2009). Karena itu, jika AS mampu melakukannya, maka akan mengakhiri kerasulan Nabi Muhammad SAW yang menurut keyakinan umat Islam diutus bagi semesta alam hingga akhir zaman. Sebab, pelaksanaan salat, zakat, puasa dan haji yang diajarkannya dengan standar perputaran bulan dan matahari yang berlaku di bumi ini. Sebaliknya, jika AS tidak dapat melakukannya maka semakin mempertegas kebohongan mereka. Kebohongan tersebut juga sekaligus mempertegas kebenaran umat Islam yang mengacu kepada tafsir karya ulama 300 atau 700 tahun yang lalu dan jauh mendahului kebenaran yang diperoleh dengan akal.

Polemik pendaratan manusia di bulan ini di sisi lain memunculkan hal yang ironis bagi umat umat Islam di Indonesia khususnya di kalangan para tokohnya. Mereka menjadi disibukkan membahas pendaratan manusia di bulan yang jaraknya sangat jauh dari bumi ini sementara yang ada di hadapan mata tidak dibahas. Hal ini seperti pada pergantian dinar (uang emas) dan dirham (uang perak) dengan uang kertas yang secara internasional distandarkan kepada dolar AS. Setahun sejak proklamasi kemerdekaan RI, pada tahun 1946 nilai rupiah menjadi melemah terhadap dolar sehingga 1 dolar AS menjadi sama dengan Rp. 2. Dalam perkembangan selanjutnya, rupiah semakin melemah hingga tahun 1965 atau menjelang berakhirnya kepemimpinan Presiden Soekarno, 1 dolar AS senilai Rp. 30.000. Pada tahun 1966 atau menjelang Soeharto menjadi presiden, 1 dolar sama dengan Rp. 45. Rupiah pun selanjutnya semakin lemah hingga tahun 1998 atau di akhir kepemimpinan presiden Soeharto, 1 dolar sama dengan Rp. 16.000. Perbedaan nilai dolar dan rupiah yang sama-sama terbuat dari kertas ini terus berfluktuatif hingga kini berkisar pada Rp. 9.000.

Semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar tersebut berdampak pula terhadap semakin meningkatnya harga-harga barang dalam rupiah dan sebaliknya semakin murah dalam dolar. Dengan demikian, sekian hektar hutan, sekian ton emas, dan berbagai kekayaan alam lainnya di Indonesia pun semakin mudah ditukar dengan kertas-kertas kecil yang berasal dari Amerika ini. Sekian  hektar hutan sebagai penyangga daratan pun gundul. Hal ini mengakibatkan ketika musim hujan terjadi banjir dan longsor di mana-mana dan ketika musim panas terasa semakin panas karena semakin sedikitnya pepohonan sebagai penyerap air dan sinar matahari.

Kezaliman di balik penggunaan uang kertas Dolar Amerika sebagai standar sistem keuangan internasional akhir-akhir ini telah menyadarkan beberapa negara meskipun berbeda agama untuk kembali memberlakukan praktik barter dalam perdagangan bilateralnya. Hal ini sebagaimana minyak dari Iran dibarter dengan emas dari China dan India (http://www.indonesiafinancetoday.com, 01 03 2012) dan dengan beras dari Uruguay www.reuters.com. 30 Mar 2012). Namun, hingga saat ini belum ada tokoh umat Islam di Indonesia sejak munculnya berita pendaratan manusia di bulan yang memberikan pendapatnya mengenai kemungkaran pada penggantian dinar dan dirham dengan uang kertas tersebut. Padahal, salat itu adalah mi’raj bagi orang mukmin dan berfungsi untuk mencegah keji dan munkar. Dengan demikian jika seorang muslim tidak dapat menjadikan salatnya sebagai mi’raj untuk mendekati Allah, maka jangankan mencegah, melihat sumber kemunkaran pun tidak dapat ia lakukan meskipun hadir di depan mata dan setiap saat dibawa ke mana-mana. Wa Allahu a’lam.