Mengapa صوم (“Shaum”) Bukan “Shiyam” ( صيام) yang Digunakan oleh Ulama dalam Niat Puasa?

2168
SHAUM (صوم), QOUM (قوم), SHIYAM (صيام), DAN QIYAM (قيام)
Mengapa Shaum pula yang menjadi bahasa sunda halusnya dari kata puasa?
Entah siapa dan sejak kapan yang menjadikan kata “puasa” dalam bahasa Sunda termasuk kata tingkatan sedang atau kasar. Adapun dalam tingkatan halusnya menjadi “saum” bukan “siam” yang berasal dari bahasa Arab.
Para ulama yang berijtihad membolehkan melafadzkan niat puasa juga gunakan “nawaitu shauma godin” bukan “shiyaama godin”.
Karena itu, mengapa kata “saum” atau “shaum” bukan kata “shiyam” lebih dipopulerkan oleh para ulama yang berkiprah di Nusantara seperti di tatar Sunda Priangan?
Padahal, di dalam al-Quran hampir semua kata yang menunjukkan puasa dalam bentuk mashdar (noun) menggunakan kata “shiyaam” bukan “shaum”? Kata ini hanya berjumlah satu yaitu di surat maryam ayat 26. Di dalamnya dijelaskan siti Maryam berkata: ” innii nadzdzartu li al-rahmaani shauman…..” (sesungguhnya aku telah bernadzar puasa (shaum) untuk Yang Maha Pengasih….).
Mungkin salah satu cara mengungkap mengapa “shaum” bukan “shiyaam” yang dipopulerkan oleh para ulama terdahulu, adalah dengan melihat fiil madhi kedua kata tersebut dan perbandingannya dengan kata lain berikut pembentukannya.
Kata “shaum” dan “shiyam” berasal dari kata kerja lampau (fi’il madhi) yang sama yaitu صام (“shooma”). Persamaan dari “shooma” menjadi “shiyam” dan “shaum” juga bisa dibandingkan dengan kata yang lain. Hal ini sebagaimana pada kata قوم /”qoum” (kaum) dan  قيام / “qiyaam” (berdiri) yang sama-sama dibentuk dari kata قام /”qooma”. Namun, saat kata ini dalam bentuk mashdar “qoum” dan “qiyam” menjadi berbeda makna.
Qoum yang diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kaum” menunjukkan kumpulan suatu komunitas manusia yang ajeg dan keberlangsungannya turun temurun hingga berabad-abad hingga melekat. Adapun “qiyam” yang artinya berdiri menunjukkan aktivitas setelah tidur atau duduk.
Dengan demikian, “qiyam” bersifat sementara karena tidak lama, sebagaimana juga “shiyam” yang dibatasi sejak terbit fajar hingga terbenamnya mata hari, menahan makan dan minum, dan sebagainya. Adapun “shaum” lebih dari sekedar “shiyam”. Aktivitasnya sudah berlanjut hingga hatinya pun selalu merasakan kehadiran Allah dan mampu mengendalikannya dari berbagai hal yang dilarang oleh Allah, tidak sekedar dibatasi oleh waktu, tapi di mana pun dan kapanpun.
Karena itu, “shaum” lebih dipopulerkan dari pada “shiyam” mungkin salah satu hikmahnya agar “shiyam” nya kita dapat berlanjut kepada “shaum” hingga berbagai aktivitas di bulan Ramadhan dan bulan2 lainnya sudah dirasakan “seolah-olah melihat Allah” atau jika tidak merasa selalu dilihat-Nya. Dengan demikian, hikmah selanjutnya juga mungkin agar terwujud “qaum” yang “shaum”.
Wallahu a’lam bis showab.
Berikut ini sebuah ayat terkait “shaum” dalam Al Qur’an:
Allah SWT berfirman:
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا   ۚ  فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًا   ۙ  فَقُوْلِيْۤ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا
“Maka makan, minum, dan bersenang hatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”
(QS. Maryam 19: Ayat 26)
Adapun ayat-ayat terkait “shiyam” sebagai berikut:
(1)
يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)
(2)
اُحِلَّ لَـکُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَآئِكُمْ ۗ  هُنَّ لِبَاسٌ لَّـكُمْ وَاَنْـتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ  عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّکُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَکُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ  فَالْــئٰنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا کَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمْ ۖ  وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۗ  ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِ ۚ  وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْـتُمْ عٰكِفُوْنَ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ  تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا ۗ  كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah 187)
(3)
وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِ ۗ  فَاِنْ اُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ  وَلَا تَحْلِقُوْا رُءُوْسَكُمْ حَتّٰى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهٗ ۗ  فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ بِهٖۤ اَذًى مِّنْ رَّأْسِهٖ فَفِدْيَةٌ مِّنْ صِيَامٍ اَوْ صَدَقَةٍ اَوْ نُسُكٍ ۚ  فَاِذَآ اَمِنْتُمْ ۗ  فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ اِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ  فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ فِى الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ اِذَا رَجَعْتُمْ ۗ  تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ  ۗ  ذٰ لِكَ لِمَنْ لَّمْ يَكُنْ اَهْلُهٗ حَاضِرِى الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Tetapi jika kamu terkepung (oleh musuh), maka (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, maka barang siapa mengerjakan umrah sebelum haji, dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Tetapi jika dia tidak mendapatkannya, maka dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (musim) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itu seluruhnya sepuluh (hari). Demikian itu, bagi orang yang bukan penduduk Masjidilharam. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 196)
(4)
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ اَنْ يَّقْتُلَ مُؤْمِنًا اِلَّا خَطَــئًا  ۚ  وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَــئًا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَّدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖۤ اِلَّاۤ اَنْ يَّصَّدَّقُوْا  ۗ  فَاِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّـكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ  ۗ  وَاِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍۢ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيْثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖ وَ تَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ  ۚ  فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ  ۖ   تَوْبَةً مِّنَ اللّٰهِ  ۗ  وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
“Dan tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Barang siapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah, (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) membebaskan pembayaran. Jika dia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal dia orang beriman, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Dan jika dia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barang siapa tidak mendapatkan (hamba sahaya) maka hendaklah dia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai tobat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 92)
(5)
فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ  شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّتَمَآسَّا ۗ  فَمَنْ لَّمْ يَسْتَطِعْ فَاِطْعَامُ  سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا ۗ  ذٰلِكَ لِتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ۗ  وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ ۗ   وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِیْمٌ
“Maka barang siapa tidak dapat (memerdekakan hamba sahaya), maka (dia wajib) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Tetapi barang siapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang yang mengingkarinya akan mendapat azab yang sangat pedih.”
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 4)