Mata Hati Laki-Laki

650

Jangkauan pandangan mata hati perempuan itu pada umumnya pendek. Demikian juga perjuangan mereka, pada umumnya dapat dilihat dari jarak yang pendek atau secara kasat mata.

Perjuangan yang langsung dapat dilihat itu sebagaimana saat mereka melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Meskipun demikian, perempuan yang menjadi ibu itu juga mampu memberikan semangat kepada anak-anaknya, khususnya laki-laki. Sang anak laki-laki itu karena didikan ibunya, dalam perkembangannya memiliki jangkauan pandangan mata hati yang sangat jauh.

Ada kalanya jauhnya pandangan itu tidak bisa dijelaskan oleh sang anak laki-laki itu, baik kepada perempuan seperti ibunya maupun kepada istrinya, dan bahkan kepada sesama lelaki baik seperti ayahnya maupun sesama teman lelakinya.

Karena itu, ketika sang lelaki menjadi suami seorang istri, ada kalanya ia juga hanyut memikirkan masa depan yang dilihat oleh mata hatinya. Sementara, ia sendiri tidak bisa menjelaskan penglihatannya itu secara lisan dengan langsung kepada istrinya.

Karena lebih konsentrasi memikirkan masa depan yang dilihat mata hatinya, ada kalanya pekerjaan membersihkan rumah, mencuci pakaian, memandikan, memberi makan kepada anak-anaknya semuanya dilakukan oleh istrinya.

Akibatnya, sang suami menjadi tumpahan kekesalan hingga kemarahan istrinya yang sangat lelah. Sang suami pun hanya bisa diam, karena terpojok di antara mata kepala yang setiap hari melihat payahnya perjuangan sang istri dan mata hati yang memandang masa depan yang mesti diperjuangkannya.

Mungkin, demikian pula yang dialami oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Banyak gagasan2 besar yang berasal dari pandangan mata hatinya yang sangat jauh. Hal ini sebagaimana perilaku dan ijtihadnya, antara lain:

(1) Tidur di atas pelapah dan di bawah pohon kurma,
(2) mengingatkan salah seorang gubernurnya di Mesir yang akan memindahkan rumah orang Yahudi dengan hanya goresan pedangnya pada tulang,
(3) menggagas pemberlakuan kalender hijriah,
(4) menggagas sholat tarawih berjamaah dengan 20 rakaat di bulan Ramadhan
(5) Menggagas pencantuman aksara Arab Islami hingga bercampur dengan aksara Persia bernuansa Majusi dalam dirham (uang perak) pada tahun 20 H, yang menginspirasi Khalifah Abdul Malik bin Marwan mencetak dinar dan dirham semuanya berinskripsi Arab Islami dan menghilangkan yang bernuansa Nasrani dan Majusi yang terdapat pada dinar dan dirham yang berlaku sebelum tahun 75 Hijriah
(6) dst

Dalam menjalani kiprah dan ijtihadnya itu, Khalifah Umar saat berada di rumah, mungkin tidak dapat menjelaskan hingga meyakinkan istrinya. Sementara, semua pekerjaan rumah termasuk mencuci pakaiannya dilakukan oleh istrinya. Karena itu, ada sebuah riwayat yang menjelaskan Khalifah Umar dimarahi oleh istrinya yang hanya bisa disikapi dengan diam oleh beliau. Entah berapa kali peristiwa seperti ini terjadi.

Namun, mungkin berkat kiprah-kiprah Khalifah Umar berikut diam saat dimarahi oleh istrinya itu, justru menjadi salah satu faktor ajaran Islam dan umatnya semakin tersebar.

Khalifah Umar juga berupaya memandang masa depan bagi anak-anak dan keturunannya. Hal ini sebagaimana dilakukannya saat berkeliling di suatu kampung. Suatu saat, di balik dinding rumah salah seorang rakyatnya, beliau mendengar percakapan seorang ibu dengan anak perempuannya yang merencanakan penjualan susu. Sang ibu menyarankan agar susu dicampur air, sebagaimana yang saat itu lazim dilakukan. Sementara, sang anak gadisnya itu menolaknya, dengan alasan hal itu merupakan perbuatan tidak baik dan tidak akan lolos dari penglihatan Allah.

Khalifah Umar pun pulang ke rumahnya. Beliau pun menyarankan putranya untuk menikah dengan gadis penjual susu itu hingga berjodoh. Dari pasangan itu, di kemudian hari lahir seorang cicit yang juga diberi nama Umar. Beliau berayah Abdul Aziz yang juga menjadi khalifah. Saat jabatan yang diemban selama dua tahun itu, rakyatnya sejahtera, bahkan mustahiq zakat pun susah ditemukan.

Itulah hasil pandangan mata hati yang sangat jauh dan kiprah dari salah seorang sosok laki-laki bernama Khalifah Umar bin Khaththab.

Demikian pula, berbagai penemuan besar fenomenal lainnya yang pada umumnya berkat jasa laki-laki. Hal ini seperti lampu listrik oleh Thomas Alfa Edison dan Mark Zuckerberg penemu media facebook ini.

Lalu, apa yang mesti dipikirkan dan dilakukan oleh laki-laki pada masa kini, saat sistem uang kertas yang dikendalikan oleh segelintir orang namun semakin menzalimi banyak orang?

Wallahu a’lam bis showab