Mahathir, Kalla, dan Wacana Penggunaan Dinar

1859

Secara mengejutkan, Mahathir Mohammad kembali terpilih menjadi Perdana Menteri Malaysia dalam usia 92 tahun. Ia merupakan sosok yang paham terhadap sistem keuangan dunia. Hal ini sebagaimana keputusanya yang menolak masukan IMF agar kurs ringgit diubah dari tetap menjadi mengambang. Keputusanya ini berbuah stabilnya nilai tukar hingga 1 dollar as dapat dipatok bernilai 3,8 Ringgit.

Jauh sebelum terjadinya krisis moneter dua dasawarsa lalu itu, tepatnya pada tahun-tahun pertama menjadi Perdana Menteri “Jilid I”, Mahathir menyadari bahwa penggunaan uang kertas tidak sesuai syariah Islam.

Saat meresmikan kursus agama anjuran Biro Agama UMNO Malaysia, 27 November 1981, misalnya, ia mengatakan: “Sistem kewangan dunia yang digunakan sekarang yang bergantung bukan lagi kepada penggunaan emas dan perak tetapi wang kertas dan cek ini bukanlah daripada sistem Islam. Dari sistem inilah wujudnya bank, pelaburan wang, surat-janji, pengadilan janji-janji perdagangan, pelaburan, eksport import, insurans dan lain-lain lagi. Sistem ini menguasai seluruh dunia sehingga kita tidak dapat tidak mesti menggunakannya” (Ismail, 2003: 3-4).

Tak heran, dalam berbagai kesempatan peraih berbagai gelar Doktor Honoris Causa —salah satunya dari Universitas Padjadjaran– itu menyatakan pentingnya penggunaan kembali mata uang dinar. Sebelum beredar di Malaysia, dinar dan dirham telah dicetak kembali di era modern ini sejak tahun 1992 di Spanyol oleh Syekh Umar Ibrahim Vadillo. Ia memeluk Islam atas bimbingan Syekh Abdul Qadir As-Sufi (sebelumnya bernama Ian Dallas dan pernah menjadi penulis naskah di TV BBC London). Beliau pun kemudian ditunjuk oleh Syekh Abdal Qadir As-Sufi untuk menjadi mursyid tarekat Darqawiyah Syadziliyah Qadiriyah di wilayah Nusantara.

Karena itu, pengenalan kembali dinar dan dirham oleh Syekh Umar yang berasal dari Spanyol kepada masyarakat Melayu merupakan hal yang fenomenal. Karena itu, dinar dan dirham pun semakin berkembang di Indonesia yang kini di bawah koordinasi Amir Zaim Saidi, salah seorang murid Syekh Abdal Qadir As-Sufi dan Syekh Umar. Kini pasar secara berkala dengan gunakan dinar dan dirham pun sudah hadir di Depok, Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), dan Ketapang (Kalimantan Barat).

Jusuf Kalla, saat menjadi menjadi Wakil Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono juga pernah menyatakan bahwa penggunaan uang kertas tidak adil. Ia mencontohkan harga minyak yang distandarkan pada uang kertas dollar AS.

Dia pernah menggagas agar dinar (uang emas) dijadikan standar dalam penentuan harga minyak dunia. Kalla mengungkapkan gagasan itu, salah satunya setelah bertemu dengan Presiden Iran saat itu, Mahmud Ahmadinejad.

Kini, Mahathir Mohammad kembali terpilih menjadi Perdana Menteri Malaysia. Sementara, Jusuf Kalla masih menjabat Wakil Presiden setidaknya untuk satu tahun ke depan. Muncul harapan, Indonesia dan Malaysia menjadi pelopor perdagangan yang adil antarnegara. Cara itu ditempuh dengan kembali menggunakan dinar atau barang lainnya yang sebanding, bukan dengan angka-angka yang tercantum dalam kertas-kertas kecil atau bit-bit komputer.

Jauh sebelum Mahathir dan Jusuf Kalla, seorang ulama nusantara bernama Syekh Abdul Qadir Bukit Bayas, pernah menyatakan tentang pentingnya penggunaan dinar dan dirham. Ia menulis tentang itu pada 1819, menggunakan aksara Jawi dan bahasa Melayu, dalam karya berjudul Risalah fi Bayani Hukmi al-Bay’ wa al-Riba.

Di dalam karya itu, ia mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, yaitu ”idza kana fi akhir al-zaman la budda li al-nasi fīha min al-darahim wa al-dananir yuqim al-rajulu biha dinahu wa dunyahu”, artinya “pada akhir zaman, manusia tak dapat tiada menggunakan dirham dan dinar, (dua mata uang) yang dapat menegakkan agama sekaligus (kehidupan) dunianya.

Hadits yang dikutip oleh Mufti Terengganu (kini wilayah Malaysia) dua abad silam ini juga diperkuat antara lain oleh dua hadits lain. Petama, “Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada saat itu orang yang tidak memiliki putih (perak) dan kuning (emas), dia akan kesusahan dalam kehidupan” (H.R. Imam Thabrani). Kedua, “Akan datang suatu masa pada umat manusia, pada masa itu tidak ada yang bermanfaat kecuali dinar (uang emas) dan dirham (uang perak)” (H.R. Imam Ahmad). Wallahu a’lam bis-showab.