Khatib Berkhutbah di Atas Mimbar (Bukan Podium) Masjid At Taqwa, Nurul Kamal

1993

Masjid ini juga merupakan sekretariat Nahdhatul uUma (nu) pengurus ranting Kelurahan Selabatu.

Di ujung tombak yang dipegang khatib juga tersemat kujang, senjata sejenis keris khas Tatar Sunda.

Mungkin karena perbedaan penghayatan tentang Ihsan, setelah Islam dan iman. Dengan demikian, bagi yang merasa “seolah-olah melihat Allah….” mereka juga merasa seolah-olah melihat Rasulullah saw hingga para sahabat, tabiin, tabiut tabiin dan generasi selanjutnya hingga ulama masa kini.

Silsilah atau sanad keilmuan secara turun temurun ini pada umumnya terdapat dalam tarekat. Karena itu, dalam penggunaan mimbar sebagai media untuk khutbah, langkah-langkah dan gerak-gerik berikut bentuk mimbar dan posisi anak-anak tangganya dipertahankan.

Hal ini juga ditambah dengan hadits pada saat naik anak2 tangga itu terjadi dialog Nabi dengan Malaikat yang mendoakan umat Islam, dan diaminkan oleh Nabi. Karena itu, di sebagian masjid-masjid ada seorang muraqi. Sebelum khatib naik mimbar, ia melantunkan ayat “innallaha wa malaikatahu yusholluuna ‘alannabii yaa ayyuhalladziina aamanu shollu ‘alaihi wa sallimuu tasliima“.

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah dan para malaikatnya (sedang dan akan) bershalawat dan memberi salam kepada Nabi.

Di sisi lain, dalam menghayati kiprah Nabi hingga ulama masa kini, maka tongkat yang dipegang oleh khatib punya makna tersendiri. Misalnya tongkat di masjid Sultan Cirebon yang dulu dipegang Sunan Gunung Jati akan memberi getaran tersendiri bagi khatib saat ini yang memegangnya.

Pada mimbar itu terdapat adab atau etika untuk Hablun minallah terlebih dahulu sebelum Hablun Minan nas. Dalam hal ini, saat menaiki anak-anak tangga badan dan wajah hatib terlebih dahulu terkondisikan menghadap kiblat, sebelum kemudian balik badan pas di puncak anak tangga hingga hadapi jamaah.

Kita juga tahu, Islam yg jauh dari Arab hingga bisa tersebar ke berbagai pelosok di Indonesia yang terdiri belasan ribu pulau ini, salah satunya berkat para khatib yang khutbah melalui mimbar.

Berkenaan polemik mimbar dan podium, sesingkat perjalanan saya ke ke Kepulauan Riau, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku, ada khatib-khatib yang menyatakan masjid yang  masih gunakan mimbar itu sebagai ciri ahlussunah wal jama’ah. Hal ini berbeda dengan di Jawa.

Wallahu a’lam bis showab