Dengan Kedap Kedip Komputer Meraup Kekayaan Alam Dunia

545

Ada cara baca secara hermeneutik ala filosof Jerman Marthin Heidegger yang ditransformasikan oleh salah seorang muridnya, Hans Georg Gadamer. Menurut Heideger, “ada” itu ada yang bisa disentuh, dan ada “ada” yang tidak bisa disentuh.

Karena itu, kita perlu mencari hingga melihat “ada” yang tidak bisa disentuh itu. Hal ini seperti semakin bermetamorfosisnya uang atau alat tukar, dari semula angka-angkanya terlihat karena tertulis di atas kertas, menjadi kerlap kerlip bit-bit angka pada komputer, plastik ukuran kartu nama, yang kecepatannya seperti cahaya.

Jadi, kini mereka yg punya ATM internasional akan semakin leluasa melampiaskan hawa nafsunya. Hal ini seperti mereka yg punya ATM berisi kerlap kerlip dollar akan semakin leluasa beli barang di Indonesia seiring semakin melemahnya nilai tukar rupiah thd dollar.

Pada kenyataannya sebagaimana terjadi di Indonesia, uang juga menjadi salah satu faktor berakhir dan mulainya hegemoni kepemimpinan. Hal ini seperti berakhirnya pak Harto karena krisis moneter pada tahun 1997, saat 1 dollar semula Rp 2500 jadi Rp 16.000.

Apalagi, dalam kondisi sekarang, saat angka-angka itu semakin gaib dan cepat pergerakannya. Karena itu, menurut Jack Weatherford dalam the history of money, uang kini laksana tuhan yang tidak bisa dilihat tapi hasil dari pergerakan uang di alam maya itu terlihat secara kasat mata. Dalam konteks Indonesia, seorang George Soros bisa menaklukkan 240 juta penduduk Indonesia yang mayoritasnya muslim ini hingga taqlid terhadap semakin naiknya hutang Indonesia dan naiknya harga-harga barang.

Dengan demikian, boleh jadi peristiwa kasat mata atau wacana yang menghiasi media massa, mungkin saja diciptakan atau didukung pihak tertentu yang ingin melanggengkan kekuasaannya dg hanya mengatur angka-angka yang semakin gaib itu.

Karena itu dengan hanya angka2 secara digital mereka semakin hemat. Hal ini berdasarkan prinsip ekonomi “dengan mengeluarkan modal sedikit-sedikitnya dapat keuntungan sebanyak-banyaknya”.

Frasa “sedikit-sedikitnya” dipraktikkan “dengan waktu yang sesingkat-singkatnya dan dengan benda yang dijadikan alat tukar semurah-murahnya”.

Karena berprinsip bagaimana agar semakin hemat, jika dulu untuk memperoleh kekayaan penjajah dari Barat harus gunakan uang emas atau uang perak, maka sejak abad ke-19 sebagaimana terjadi di Indonesia berbagai kekayaan alam di negeri ini dapat ditukar dengan hanya kertas-kertas kecil Gulden Belanda hingga kini dengan dollar Amerika”.

Bahkan, kini para penjajah yang berusaha semakin hemat dalam kelangsungan penjajahannya, memetamorfosiskan angka-angka yang tercantum pada kertas-kertas kecil menjadi hanya kedip-kedipan angka pada bit bit komputer atau dalam plastik seukuran kartu nama. Namun, angka-angka itu meskipun sama berkedip-kedip tapi nilainya berbeda bergantung kepada nama mata uang dan asal negaranya. Hal ini seperti 1 dollar as = Rp. 13.500, 100 dollar as = Rp. 1.350.000.

Bukankah pertukaran berbagai kekayaan alam di negeri ini dengan hanya kedip-kedipan angka pada bit-bit komputer dan ATM serta sejenisnya ini membuat mereka semakin hemat?

Menurut Yuval Noah Harari, Dosen jurusan Sejarah Universitas Ibrani Israel, pada tahun 2006 saja jumlah total uang di seluruh dunia bernilai 473 triliun dollar as. Namun, jumlah total koin dan uang kertas dari nilai tersebut kurang dari 47 triliun dollar as. Karena itu, lebih dari 90 persen semua uang (lebih dari 400 triliun dollar as) muncul dalam bentuk rekening yang hanya ada dalam server-server komputer.