Goresan Tangan Ayat Qur’an Karya Johann Wolfgang von Goethe

715

Saat pertama kali kuliah jurusan D3 bahasa Jerman Unpad pada tahun 1995, hampir setiap bulan pulang kampung ke Sukabumi. Suatu saat, saya merenung cukup lama, saat melihat kitab-kitab kuning peninggalan kakek yang diwariskan kepada ayah. Salah satunya kitab Ihya Ulumuddin lengkap 4 jilid.

Saya pun sedih. Sebab, saya tidak akan meneruskan tradisi dari buyut, kakek, hingga ke ayah yang banyak mempelajari kitab kuning. Bahkan, mereka juga hapal beberapa kitab antara lain Jurumiyah, Safinah, Tijan Daruri, dan Alfiyah.

Saya pun selanjutnya tidak larut dalam kesedihan itu. Sebab, ayah sendiri yang telah menyarankanku untuk memilih jurusan bahasa Jerman, sehingga saya tidak berkuliah di IAIN (kini UIN) sebagaimana kemauan Ibu. Karena itu, keputusan ayah kontroversial baik di kalangan keluarga maupun masyarakat.

Tapi, belakangan Allah memberi berkah dan hikmahnya. Dengan saya mempelajari bahasa Jerman, menambah keyakinan saya terhadap ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tsb. Hal ini setelah saya berkunjung ke Goethe Institut Bandung. Saya pun shalat di mushola lembaga yang mengenalkan budaya dan bahasa Jerman di mancanegara ini. Saat itu, pada dinding mushola terpasang tulisan berbahasa Indonesia yang menjelaskan bahwa Goethe meyakini kebenaran ajaran Islam.

Saya kemudian meminjam buku der West-oestliche Divan karya Goethe hingga menemukan syair-syair Goethe tentang Islam dan Nabi Muhammad saw. Saya pun sejak itu menghapal syair-syair tersebut, yaitu: “Naerrisch das jeder in seinem Falle seine besondere Meinung/ wenn Islam Gott ergeben heisst/ in Islam leben und sterben wir alle…und so muss das Rechte scheinen/ was auch Mahomet (Muhammad) gelungen/ nur durch den Begriff des Einen/ hatte er alle Welt bezwungen/

Karena itu, sejak lulus D3 bahasa Jerman tahun 1998, terdetik di hati ini ingin ke Jerman untuk mendalami pemikiran Goethe. Allah pun mengabulkan keinginanku 16 tahun kemudian. Pada bulan Desember 2014 lalu, saya bersama teman-teman mengikuti short course di Johann Wolfgang Goethe Universitaet di Frankfurt.

Di sela-sela mengikuti kegiatan ini, saya pun tiga kali berkunjung ke Goethe Haus, tempat dulu Gothe dilahirkan hingga berusia remaja. Dari museum ini, saya pun membeli buku yang di dalamnya terdapat goresan aksara Arab karya Goethe.

Saya juga membeli buku “Goethe and Money” yang di dalamnya antara lain terdapat ilustrasi Goethe bahwa uang kertas itu tercipta dari bisikan setan bernama Mephsitopeles kepada Dokter bernama Faust. Keduanya pun selanjutnya menyarankan kepada Kaisar yang berambisi menguasai dunia agar menggantikan uang emas dan uang perak dengan uang kertas. Uang kertas ini selanjutnya ditandatangani oleh Kaisar dan diberi keterangan sebagai alat tukar dan dicetak sebanyak-banyaknya. Karena itu, Kaisar pun mudah melampiaskan hawa nafsunya: tinggal mencetak kertas-kertas kecil yang sudah disihir menjadi uang.

Karena itu, saat melihat goresan aksara Arab karya Goethe: 1) lafadh basmallah, 2) surat an-Nas, 3) sampul karya-karya Goethe “der West-oestliche Divan” yang juga disertai dalam aksara dan bahasa Arab “ad-diiwaanu as-syarqiyyu lil Muallif al-Gharbiyyi” dan 4) patung Goethe di Frankfurt, membawa ingatan saya ke masa silam saat disarankan ayah untuk memilih jurusan bahasa Jerman dan saat melihat kitab-kitab kuning peninggalan kakek, salah satunya kitab Ihya Ulumuddin.

Dalam kitab ini, Imam Ghazali menyatakan bahwa hikmah penciptaan dinar (uang emas) dan dirham (uang perak) tidak akan dapat dimengerti oleh orang yang hatinya sudah menjadi tempat sampah hawa nafsu dan tempat permainan setan. Karena itu, pernyataan Imam Ghazali ini sejalan dengan ilustrasi Goethe dalam Faust II, uang kertas tercipta karena bisikan setan