Fikih Eko­nomi Umar bin al Khathab

1213

Umar bin Khathab r.a. memiliki kepiawaian dalam menye­jah­­terakan warganya. Pada masa  Umar ibn Khathab  manusia tertimpa bencana kelaparan yang disebabkan kemarau panjang dan paceklik. Daerah-daerah ditimpa kekeringan. Manusia dan binatang banyak mati kelaparan. Ketika itu, manusia terlihat mengangkat tulang yang rusak, bahkan menggali lubang tikus untuk mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.

Ibnu Khaldun mengatakan krisis tersebut terjadi pada 18 H. Menurutnya, peristiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya. Krisis ini kemudian dikenal dengan sebutan ramadah. Beberapa pendapat yang melatarbelakangi penyebutan istilah tersebut, antara lain: (1) bumi meng­hitam akibat sedikitnya hujan hingga warnanya seperti ramad (abu); (2) bumi menghembuskan angin debu seperti abu, dan; (3) manusia banyak yang meninggal dan harta-benda banyak yang hancur.

Meskipun kemudian datang musim hujan, kehidupan perekonomian tidak kembali membaik secara sekaligus. Bahkan ketika rumput tumbuh kembali, dibutuhkan tenggang waktu untuk dapat dimanfaatkan oleh ma­nu­­sia, juga bagi binatang. Puncak krisis ini terjadi pada masa eksodus­nya manusia ke Madinah yang terjadi selama 9 bulan. Luas daerah yang tertimpa krisis ini meliputi seluruh wilayah Hijaz, bahkan ada yang meri­wa­yatkan juga melanda luar jazirah Arab, yaitu: Najd, Tihamah, dan Yaman. Umar r.a. pun mengutus dua orang kaum An¡ar ke daerah terse­but. Mereka membawa banyak unta yang bermuatan ma­kan­­an dan kurma untuk dibagikan kepada orang-orang yang kelaparan di sana.

Penyebab krisis ini bersifat material dan maknawi. Sebab-sebab mate­rial misalnya hujan tidak turun dan munculnya wabah pes di negeri Syam. Para peneliti menambahkan bahwa penyebab lainnya adalah: (a) terjadinya urbanisasi besar-besaran ke Madinah, sebab sumber-sumber per­ekonomian di Madinah terbatas, sementara warga Madinah tidak siap menyambut orang-orang yang eksodus ke sana; (b) sibuknya kaum Muslimin dalam jihad dan penaklukan wilayah di Irak, Syam, dan Mesir. Akibatnya, perhatian terhadap pertanian dan sumber-sumber air serta tem­pat penggembalaan ternak menjadi sedikit; (3) pengusiran orang-orang Yahudi dari Khaibar menjadi sebab berkurangnya produksi perta­ni­an di sekitarnya. Padahal, sejak zaman Rasulullah saw. telah ada keputus­an bahwa para petani (Yahudi) tetap tinggal di Khaibar agar me­reka mengerjakan lahan pertanian dan mendapat separuh dari hasilnya, sedangkan separuh­nya bagi kaum Muslimin.

Pengusiran orang Yahudi oleh Khalifah Umar r.a. disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, me­lak­sanakan wasiat Nabi Muhammad saw.: “Tidak boleh berkumpul dua agama di jazirah Arab”. Kedua, saat itu kaum Muslimin telah mampu mengerjakan lahan pertanian. Ketiga, pengingkaran kaum Yahudi terha­dap janji dan serang­an mereka kepada kaum Muslimin, yakni penyerangan terhadap Abdul­lah bin Umar saat pergi ke ladangnya di Khaibar.

Akibat krisis ramadah ini, manusia mengalami paceklik sehingga kam­­bing menjadi kurus. Harta benda lenyap dan yang tersisa hanyalah sesuatu yang tidak ada nilainya. Melemahnya perge­­rakan perdagangan antara Hijaz dan Syam juga berdampak pada makin sedikitnya makanan pokok dari Syam ke Hijaz. Akibatnya, harga menjadi naik dan manusia menimbun barang. Bukti yang menunjukkan kenaikan harga pada saat krisis tersebut antara lain: harga satu bejana susu dan satu kantong keju mencapai empat puluh dirham. Inilah penyebab terjadinya urbanisasi besar-besaran bangsa Arab dari segala penjuru ke Madinah.

Umar bin Khathab pun membuat kebijakan dengan melarang kaum Badui untuk menikah selama paceklik. Umar sangat tegas dalam hal ke­se­taraan. Dia berkata: ”Demi zat yang diriku di tangan-Nya, sungguh aku akan melarang perempuan yang memiliki kemuliaan untuk menikah, me­lain­kan dengan laki-laki yang memiliki kemuliaan, karena sesungguhnya jika musim paceklik (menimpa) orang-orang Arab Badui, maka tidak ada nikah bagi mereka”. Menurut Ibnu Qutaibah, barangkali faktor kesempit­an akan mendorong mereka untuk menikahi orang-orang yang tidak setara. Umar mengkhususkan larangan pernikahan kepada orang-orang Badui selama paceklik karena dua hal. Pertama, orang-orang Badui lebih banyak terkena dampak krisis ekonomi daripada selain mereka. Kedua, bahwa orang-orang Badui lebih banyak memperberat syarat kesetaraan daripada selain mereka.

Karena itu, Umar r.a. mengkhawatirkan orang-orang Badui ini menikahi perempuan yang tidak setara, sehingga banyak membawa dampak buruk bagi mereka, antara lain: (a) terzaliminya perem­pu­an karena dinikahkan dengan orang yang tidak setara dengannya; (b) ter­ja­di­nya penyesalan ketika hilangnya sebab-sebab yang mendorong per­ni­kah­an tersebut, khususnya bangsa Arab yang suka mencela pernikahan tidak setara; (3) anak-anak akan terabaikan dan tertekan secara psikologis. Artinya, terpenuhinya syarat kesetaraan merupakan salah satu faktor ke­ten­­tra­man hubungan pernikahan dan keberlanjutannya.

Ada dua solusi yang ditawarkan Umar dalam mengatasi kri­sis ramadah ini. Pertama, merasa bertanggung jawab terhadap terjadinya krisis, sebagaimana doa beliau: ”Ya Allah, janganlah Engkau jadikan ke­bi­na­­saan umat Muhammad pada tanganku dan di dalam kepemim­pin­an­ku”. Kedua, ikut andil dalam mengemban penderitaan di saat krisis, dan mem­berlakukan keteladanan bagi umat. Beliau tidak menyukai ma­kan sesuatu yang orang lain tidak mendapatkan yang seperti itu. Ia tidak meng­uta­ma­kan dirinya atas rakyatnya.

Jika mendengar harga naik  di suatu wilayah Muslim,  beliau menghapuskan kelebihan harga yang sam­pai kepa­da­nya, dan mengatakan: ”Bagaimana mungkin mereka men­da­pat­kan kepedulian dariku, jika tidak menimpaku apa yang menim­pa mereka”? Beliau memperberat dirinya dengan selalu makan roti gan­dum, hingga suatu ketika perutnya keroncongan, beliau hanya mengata­kan (pada diri­nya sendiri) ”Apa yang kamu rasakan itu, dirasakan pula oleh penduduk Madinah”. Selain itu, Umar tidak pernah makan di rumah salah satu putranya, tidak juga di rumah salah satu istrinya, melainkan apa yang beliau makan bersama rakyatnya. Beliau bersumpah untuk tidak makan keju dan daging, sehingga manusia hidup seperti semula, walaupun dibelikan orang lain, beliau akan menolaknya.

Iyadh bin Khalifah berkata, ”Aku melihat Umar r.a. pada tahun rama­dah ini berwarna hitam, padahal dia berkulit putih, dan dia adalah seorang Arab yang memiliki tradisi makan keju dan minum susu, namun ketika manusia kelaparan, beliau mengharamkan keduanya terhadap diri­nya, sehingga mereka hidup tidak kelaparan, lalu dia makan zaitun sehingga berubah warna kulitnya, dan dia sering lapar”. Sedangkan Sa’ib bin Yazid menggambarkan pakaian Umar dengan mengatakan, ”Aku melihat Umar bin Khatab memakai baju dengan enam belas tambalan”.

Umar menegaskan, ”Sesungguhnya manusia akan senantiasa istika­mah, selama pemimpin mereka istikamah terhadap mereka”. Dan dalam suratnya kepada Abu Musa Al-Asy’ari, beliau mengatakan, ”Sesungguh­nya manusia akan melakukan sesuai dengan apa yang imamnya lakukan. Jika imam menyeleweng, maka rakyatnya pun akan menyeleweng”. Bukan hanya itu, Umar pernah mengingatkan dengan mengundang kelu­ar­­ganya, beliau berkata, ”Sesungguhnya aku melarang demikian, dan bah­wasanya manusia akan melihat kamu seperti burung melihat daging, maka jika kamu jatuh, jatuhlah manusia, dan jika kamu takut, maka ta­kut­lah manusia. Sungguh demi Allah, tidaklah seorang di antara kamu jatuh dalam sesuatu dari apa yang aku larang kepada manusia, melain­kan aku gandakan kepadanya hukuman, karena posisinya dariku”.

Oleh karena itu, Umar bin Khathab menyeru kaum Muslimin agar hemat, dan menyerahkan sebagian harta kepada orang yang membutuhkan. Dia juga mendahulukan kebutuhan me­re­ka yang terimbas krisis dan mengarahkan sumber ekonomi untuk hal tersebut. Umar melarang bersenang-senang dan menyu­ruh membiasakan berpola hidup sederhana.

Menurut Umar r.a., cara-cara maknawi mengatasi krisis Ramadah adalah mengajak kaum Muslimin untuk bertobat dan beristigfar. Beliau mengatakan: ”Sesungguhnya bencana ini disebabkan banyaknya perzi­na­­an, dan kemarau panjang disebabkan para hakim yang buruk dan para pemimpin yang zalim. Wahai manusia! Sungguh aku khawatir jika bencana merambah kepada kita semua, maka carilah rida Tuhanmu, tinggalkanlah perbuatan dosa, bertobatlah kepada-Nya, dan lakukanlah kebaikan”.

Setelah berhasil mengatasi krisis Ramadah, maka rakyat yang dipim­pin Umar bin Khathab menjadi sejahtera. Beberapa contoh kesejahteraan yang diperoleh rakyat tersebut adalah pemberian insentif 100 dirham bagi setiap anak yang baru lahir. Jika menginjak akil balig, insentif dinaikkan jadi 200 dirham, dan jika telah akil balig mendapat tambahan lagi. Pemberian insentif ini merupakan cara untuk mendorong umat agar menambah kelahiran anak. Beliau juga sangat antusias dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi Muslim. Salah satunya dengan menetapkan gaji bagi setiap pengajar sebanyak 15 dinar setiap bulannya.

Selain menetapkan anggaran yang cukup besar bagi anak-anak dan para pengajar, Umar bin Khathab juga mengarahkan pengembangan pendidikan bagi generasi Muslim tersebut. Beliau sangat mem­per­hatikan hubungan antara ilmu dan amal. Dia tidak menyukai ilmu yang tidak akan menghasilkan pengamalan. Umar pernah mengatakan: ”Persedikit­lah periwayatan dari Rasulullah saw., kecuali dalam hal-hal yang diamalkan”. Ketika Abu Musa menulis surat kepada Umar, ”Tahun ini terdapat banyak yang hafal Al-Qur’an”, maka Umar membalas surat tersebut yang justru menetapkan pemberhentian kepada mereka.

Tahun beri­kut­nya Abu Musa kembali menulis surat kepada Umar dan memberitahu­kan bahwa orang yang hafal Al-Qur’an berlipat ganda jumlahnya dari pada tahun sebe­lum­nya. Umar menjawab, ”Tinggalkan mereka, karena saya takut jika manu­sia sibuk menghafal Al-Qur’an dan meninggalkan pemahamannya”. Di samping itu, Umar memerintahkan mempelajari ilmu nasab (keturunan) dan ilmu perbintangan (astronomi). Dia juga mem­be­rikan sangsi kepada seseorang yang selalu bertanya tentang mutasyabihat yang tidak ada ka­it­annya dengan hukum amaliah, yang jus­tru seringkali menimbulkan per­de­batan berkepanjangan serta menyia-nyia­kan waktu, melemahkan pemi­kir­an, dan menyesakkan dada. Beliau pun menekankan hukum-hukum syariah yang berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan seseorang. Sebab, ketidaktahuan hukum tersebut akan berdampak pada pelaksanaan peker­ja­an atau usaha yang dilarang syariah. Dalam hal ini, Umar mengatakan, ”Barang siapa yang tidak memahami hukum Islam, maka janganlah dia berdagang di pasar kami”.

Kisah di atas bersumber dari Al-Fiqh al-Iqtishadi li Amir al-Mukminin Umar ibn al-Khathab yang ditulis oleh  Jaribah bin Ahmad al Harith (Penerjemah As­mu­ni Solihan Zamakhsyari; Penerbit: Khalifa, Jakarta, 2008). Buku ini sangat menarik untuk dikaji. Hanya saja, definisi dirham dan dinar tidak dijelaskan dalam buku tersebut. Satu dinar emas setara dengan 4,25 gram emas, sedangkan satu dirham 3 gram perak. Andai  dihitung dengan rupiah pada 2008, maka setiap bayi yang baru dilahirkan akan mendapatkan uang sekitar 5 juta rupiah, dan seorang guru mendapatkan gaji sekitar 15 juta rupiah perbulan.