Di Sukabumi 1940an: Tim Rukyat Buatan Belanda Tak Melihat Hilal

731

Di Sukabumi tahun 1940an.  Tim rukyat terbentuk ada dua. Pertama, Tim Rukyat yang antara lain ada K.H A. Sanusi (AII) dan HAKA (Haji Abdul Karim Amrullah) ayahanda HAMKA. ADa juga Tim Rukyat bentukan Belanda. Rupanya Tim Belanda tidak melihat bulan.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam buku “Ayahku” bercerita banyak ttg ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA).

Salah satunya, saat HAKA dan keluarganya diungsikan oleh Belanda ke Sukabumi, kurang lebih setahun pada tahun 1940-an. HAKA yang juga pengurus Muhammadiyah bertemu dengan kawan lamanya, K.H. Ahmad Sanusi.

Keduanya sama-sama pernah belajar kepada Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi, saat masih mukim di Mekah. Karena itu, pengungsian HAKA dan keluarganya ke Sukabumi berbuah berkah bagi keduanya.

Kedua ulama ini meneruskan perjuangan melawan penjajah Belanda. Keduanya juga mengarahkan umat Islam di Sukabumi agar tidak mengikuti penghulu atau imam-imam masjid yang diangkat oleh Belanda.

Karena itu, kedua ulama ini menjadi panutan di Sukabumi, meski keduanya memiliki perbedaan dalam memahami dan menjalankan syariah Islam. Namun, dalam penentuan awal atau akhir Ramadhan, keduanya sama-sama melakukan rukyat. Karena itu, saat menjelang Ramadhan tiba, keduanya berupaya melihat hilal dan berhasil melihatnya. Tetapi, para penghulu yang diangkat oleh Belanda tidak berhasil melihat hilal.

Hasil rukyat kedua ulama ini yang dijadikan rujukan oleh umat Islam di Sukabumi. Karena itu, pada esok hari dimulailah puasa Ramadhan.

Lalu, bagaimana hasil rukyat untuk Idul Fitri sore ini (Ahad, 24 Juni 2017)?