Dari La ilaha Menuju La ilaha ilallah?

499

Kembali saya bersama seorang atheis Jerman yang baik, Marcel namanya. Selama lebih dari sepekan di Cape Town, di pertengahan Oktober 2018 lalu,  hampir setiap hari sesekali makan berjamaah bersamanya. Bahkan, ia juga beberapa kali ikut baca berjamaah Miftahul Wirid, tapi ia baca terjemahnya dalam bahasa Inggris, di rumah Syafik seorang teman muslim asli Afrika Selatan.

Suatu saat, Marcel yang alumnus Köln Universität dan kampus di China ini mau memakai  mesin cuci. Saya pun mau nimbrung, memasukkan baju kotor saya. Ia tanya dulu, apa warna bajunya pudar. Saya bilang tidak.

Setelah cucian kering dan diangkat, saya baru sadar di saku baju saya ada sedikit tinta bekas ballpoint, hingga kaos putihnya agak membiru. Ia pun dengan nada tinggi, bilang ke saya, yang terjemahannya “Kan tadi sudah saya tanya, bajunya ada yg luntur warnanya atau tidak”.

Saya mohon maaf, karena baju saya buat kaosnya agak membiru, karena saya baru sadar, ada sedikit bekas tinta ballpoint di saku. Ia pun memaklumi saya.

Kini…Marcel yang punya dua apartemen di Jerman dan tanah di Spanyol katanya ingin hidup bebas…

Semoga ia dapat menikmati kebebasan yang hakiki. Hal ini sebagaimana orang Jerman lainnya yang dalam setiap tahun juga berkunjung ke Cape Town Afrika Selatan, Rais Abu Bakr Rieger . Beliau juga saat kuliah di Freiburg Universität jadi atheis dan kemudian menjadi Muslim.

Aamiin