Bersama Syekh Yusuf al Makassari al Bantani

603

Alhamdulillah.  Beberapa waktu lalu saya berada di sebelah lukisan Syeklh Yusuf al Makassari al Bantani di Museum La Galigo, Makasar. Dua tahun lalu saya berziarah ke makam beliau di Cape Town, Afsel.

“Jasad Syekh Yusuf tiga abad lalu dipenjara hingga diasingkan oleh Belanda dari Banten ke Srilangka dan ke Afrika Selatan, tetapi hati beliau merdeka hingga tak berhenti melawan penjajahan.

Namun, sejak berlakunya uang kertas secara masif sejak abad 19, umat Islam seperti di Indonesia terutama sejak belasan tahun lalu, jasadnya tampak merdeka hingga dapat ke mana-mana, tapi hatinya dipenjara.

Karena itu, tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi penjajahan beralat uang kertas. Bahkan, menghadapi seorang George Soros, seorang spekulan Yahudi yang berada di balik krisis moneter 1997/1998 pun tidak bisa. Akibatnya, 1 dollar pada tahun 1997 semula rp 2500 pada tahun 1998 menjadi rp 16.000 dan kini sekitar rp 14.500”.
____________________________________________

Meski lahir dan dibesarkan hingga remaja di Makassar, kiprah Syekh Yusuf al Makassari sebagai ulama dan pejuang sebagian besar waktunya berlangsung di Banten. Hal ini sehubungan dengan pertemuan beliau dengan Sultan Ageng Tirtayasa saat menunaikan ibadah haji. Syekh Yusuf pun mendampingi sang Sultan dalam memimpin kesultanan Banten. Hubungan ini terjalin semakin erat setelah Syekh Yusuf juga menjadi menantunya.

Setelah Sultan Ageng Tirtayasa ditawan hingga wafat pada 1695, perjuangan melawan Belanda dipimpin oleh Syekh Yusuf. Perjuangan secara langsung ini berakhir setelah beliau ditangkap oleh VOC (Belanda) di Sukapura (kini Tasikmalaya). Bahkan, beliau dijatuhi hukuman mati. Namun, hukuman ini mendapat kecaman dari masyarakat dunia, terutama maharaja India, Sultan Aurang Zeb. Karena itu, hukuman mati untuk beliau diganti menjadi hukuman seumur hidup. Beliau pun diasingkan ke Srilangka.

Sementara, dakwah dan pengajaran Islam terus berlangsung dari Banten ke Priangan. Hal ini sehubungan tersebarnya para ulama dari Banten ke wilayah ini dengan tertangkapnya Syekh Yusuf. Karena itu, banyak pesantren yang didirikan oleh ulama Banten yang dikembangkan oleh keturunan mereka.

Keberadaan Syekh Yusuf di Srilangka dakam perkembangannya justru semakin banyak dikunjungi oleh orang-orang dari Nusantara yang pergi atau pulang ibadah haji. Melihat kharisma Syekh Yusuf yang sangat besar itu, setelah 9 tahun beliau dan 49 pengikutnya diasingkan ke Cape Town Afrika Selatan hingga wafat.

Ajaran Islam pun selanjutnya semakin tersebar di Afrika Selatan. Bahkan, sejak belasan tahun yang lalu, di Cape Town hadir ulama kelahiran Skotlandia yang semula Kristen (agama mayoritas di Belanda dan negara2 di Eropa bagian utara lainnya). Beliau adalah Syekh Abdal Qadir As Sufi, mursyid tarekat Syadziliyah Darqawiyah Habibiyah. Murid beliau pun ada dari Belanda. Salah satunya Yusuf van Heuken. Bersama para murid yang sebagiannya dari Eropa itu, Syekh Abdal Qadir mempelopori penggunaan kembali dinar dan dirham. Beliau dan para muridnya ini, juga mendirikan The Jumua Mosque di Cape Town yang dibangun dari bekas sinagog (tempat sembahyang umat Yahudi).

Kini gerakan penggunaan kembali dinar dan dirham tersebut dipimpin oleh murid beliau asal Jerman, Rais Andreas Abu Bakr Rieger. Karena itu, pertemuan saya dengan beliau di Cape Town, mengingatkan jargon “berotak Jerman, berhati Mekah” saat menjadi santri di pesantren La Tansa (1991-1994). Karena itu untuk mengingat kembali munculnya jargon ini hingga bertemu beliau, saat berziarahb ke makam Syekh Yusuf, saya mengenakan jas, peci, dan syal bendera Jerman.