Berkah Surat Yasin 9, Lolos dari Kepungan Musuh

5085

Teringat Ramadhan waktu mondok di La Tansa kelas 6, tahun 1993/1994 silam. Saat mengaji balagan kepada Kyai Ahmad Nawasi kitab kuning Tafsir Yasin karya Syekh Hamami Zada.

Pada bahasan ayat ini:

وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ

“Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”
(QS. Ya Sin 36: Ayat 9)

Dikisahkan Nabi dikepung oleh kaum kafir Quraisy. Namun, mereka tidak dapat melihat Nabi yang akhirnya lolos dari kepungan mereka.

Kyai Nawasi juga bercerita pernah ada seorang pemuda yang berkunjung ke kampung orang lain. Sebagian pemuda di kampung itu tidak menyukai hingga bermaksud mencederainya. Mereka pun mengepung rumah yang di dalamnya terdapat pemuda itu. Sang pemuda pun membaca surat Yasin ayat ke-9 hingga dapat lolos dari kepungan karena tidak dapat dilihat oleh mereka.

Mungkin, demikian pula berkah pembacaan surat Yasin secara berjamaah oleh segelintir ulama yang dulu berdakwah ke Nusantara. Islamisasi pun tanpa terasa hingga akhirnya Nusantara mayoritasnya menjadi muslim.

Namun, mungkin tidak setiap yang baca surat ini akan berbuah berkah yang sama seperti lolos dari kepungan. Hal ini tergantung yang bacanya.

Sebab, mungkin sejak abad ke-19 saat baca surat Yasin kurang atau tidak dihayati, ditambah muncul kelompok-kelompok yang membid’ahkan Yasinan berjamaah ini, maka justru umat Islam menjadi terjerumus ke dalam kepungan sistem riba.

Salah satu instrumen ini yaitu uang kertas. Sejak berdirinya IMF dan Bank Dunia tahun 1944, sistem uang kertas ini distandarkan kepada dollar AS. Umat Islam dan umat-umat lain di negeri ini semakin dikepung oleh sistem riba ini, bahkan meskipun oleh George Soros. Karena ulahnya, 1 dollar semula Rp. 2500 pada tahun 1997 setahun kemudian = Rp. 16.000 dan kini Rp. 13.000.

Demikianlah bacaan bahkan hapalan Al Quran umat Islam zaman sekarang.

Bacaanya belum bisa mendatangkan banyak cahaya agar bisa keluar dari sistem riba. Bahkan, justru semakin terperosok ke dalam gelap gulita sistem yang instrumennya uang kertas.

Hal ini berbeda dengan segelintir hingga banyak ulama dulu yang berdakwah hingga Islam jadi mayoritas. Membaca satu ayat saja bagi mereka sudah mendatangkan cahaya. Apalagi membaca satu Qur’an, cahaya semakin banyak. Karena itu, Portugis yang setelah taklukkan Malaka dapat dihadang oleh pasukan pimpinan Dipati Unus sehingga Portugis gagal menyebarkan agama mereka agar jadi mayoritas di Nusantara.

Namun, George Soros yang 20 tahun lalu buat rupiah semakin lemah, pada tahun 2006 bisa berkunjung lagi ke negeri ini. Demikian juga di Timur Tengah baru-baru ini. Dua Minggu setelah kunjungan Presiden Amerika Donald Trump ke Arab Saudi, justru malah negeri penghasil para penyeru yang sering umbar bid’ah yang didukung Mesir, dan UEA ini malah memboikot Qatar, tetangga mereka yang sama-sama Arab, sama-sama berbahasa Arab, sama-sama satu daratan, dan sama-sama mayoritasnya muslim ini.

Wallahu a’lam bis showab.