Belanja dengan Dirham Perak di Pasar Muamalah, Depok

744

Ahad, 3 Juni 2018, saya berbelanja minuman apel dan selai pisang kepada seorang Alumni Fakultan Ekonomi Universitas Airlangga, dan sekarang juga bekerja di Kementrian Keuangan, RI. Saya membayarnya dengan Dirham perak.

Apa yang dilakukan hari ini dan hari-hari lainnya bertransaksi gunakan dinar dan dirham bukan proses sim salabim. Jika dihitung dari berupa gagaaan, sejak diri ini duduk di kelas 2 pesantren Daar el Qolam tahun 1989. Saat itu, di ruang kelas berlantai tanah dan berdinding papan tua, dalam benak ini muncul pertanyaan apa perbedaan nuqud dan fulus. Pertanyaan ini muncul karena heran. Jika fulus artinya uang mengapa muflis artinya orang yang tidak punya uang bukan orang yang punya uang?

Alhamdulillah 20 tahun kemudian pada tahun 2009 ikut diklat calon peneliti di LIPI dan mempresentasikan makalah berjudul “Pemikiran Goethe tentang Islam dan Uang Kertas serta Pengaruhnya terhadap Penggunaan Dinar Emas dan Dirham Perak di Indonesia”. Tahun 2014 juga ikut short course di Universität Goethe Frankfurt, sempat juga beli buku Faust II karya Goethe dan buku “Goethe and Money” yang di dalamnya ungkapkan kritik Goethe terhadap uang kertas yang tercipta dari gagasan setan hingga menggantikan uang emas dan uang perak.

Karena itu, saat ucap اعوذ بالله من الشيطان الرجيم ،(“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”), jadi ingat kata Goethe dalam Faust II, bahwa uang kertas itu tercipta karena gagasan setan.
….

Saat baca

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 3),

Jadi ingat menurut para ulama infak itu ada yang sunnah (sedekah) dan ada yang wajib (zakat). Adapun Rasulullah saw tentukan zakat uang itu hanya dengan nuqud berupa dinar (uang emas) dan dirham (uang perak). Beliau tak berlakukannnya pada fulus ((uang terbuat selain dari emas dan perak). Kedua ini juga diberlakukan sebagai standar minimal sanksi hukuman potong tangan bagi pencurian minimal 1/4 dinar atau 3 dirham.

Dinar disebut dalam surat Ali Imran ayat 75 dan dirham disebut dalam surat Yusuf ayat 20 serta ورق (uang perak) disebut dalam surat Al Kahfi.

Di dalam al Quran juga banyak ayat tentang emas dan perak. Di dalamnya juga terdapat ayat berisi laknat bagi yang menimbun emas dan perak. Karena itu, umat Islam termasuk yang hapal Quran 30 juz, saat rela (tidak terpaksa) hidup dalam sistem uang kertas, berarti sama saja membiarkan berbagai kekayaan alam seperti emas dan perak ditimbun oleh mereka yang mengendalikan sistem uang kertas. Hal ini sebagaimana sekian ton emas di Papua yang dengan mudah ditukar angka-angka pada kertas2 kecil bernama dollar atau berupa bit-bit komputer. Apalagi kini 1 dollar sama dengan Rp. 14.000. Karena itu, berbagai kekayaan alam di Indonesia makin murah dan makin mudah ditukar angka-angka dollar yang semakin jauh nilainya dari pada rupiah.

Terima kasih kepada pujangga Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832( yang meyakini kebenaran ajaran Islam dan ungkap uang kertas tercipta dari gagasan setan.

Terima kasih pula kepada Syekh Abdal Qadir As Sufi (semula Kristen dan bernama Ian Dallas, lahir di Skotlandia tahun 1930 dan kini beliau tinggal di Afrika Selatan) yang telah menggali pemikiran Goethe.

Terima kasih pula kepada beliau yang telah mengutus salah seorang muridnya Dr. Asadullah Yate (lahir 1951 di Inggris dan semula Kristen) untuk berkiprah di Jerman sejak puluhan tahun lalu, hingga di Jerman muncul Rais Andreas Abu Bakar Rieger (lahir di Jerman tahun 1964, semula Kristen saat kuliah jadi atheis dan selanjutnya menjadi Muslim hingga mengkoordinasi gerakan penggunaan dinar dan dirham serta menerbitkan tabloid berbahasa Jerman, Islamische Zeitung.

Apakah penggunaan uang kertas yang semakin zalim seperti 1 dollar kini Rp. 14.000 sesuai ajaran Islam dan akal yang Allah berikan?

Wallahu a’lam bis showab